Langsung ke konten utama

Empat Naga


1
DI LANGIT.
DUA NAGA TENGAH MELAYANG DAN TERBANG, MASING-MASING MENGELILINGI DARATAN YANG ADA DI BAWAH;  SESEKALI BERKEJARAN, BERMAIN-MAIN. KEMUDIAN DISUSUL DUA NAGA LAIN. LANTAS SEEKOR DIANTARA MEREKA TERTINGGAL DI BELAKANG.

NAGA HITAM :
Marilah kita berhenti sejenak.

NAGA KUNING :
Mari, mari kita menikmati langit paling biru ini.

NAGA BIRU :
Nanti setelah selesai beristirahat, kita akan seterusnya bermain lagi.

NAGA HITAM :
Ya! Sampai matahari akhirnya tenggelam di barat.

NAGA BIRU:
Ah, di mana Naga Putih? Aku tidak melihat ekornya barang sekelebatpun.

NAGA KUNING :
Seharusnya ada di sini. Dia yang tadi terbang di sebelahku. Tapi memang dasar kebiasaannya itu. Tidak bisa barang sekalipun ia terbang diam! Tiap kali memekik bising melihat pepohonan. Tiap kali membanding-bandingkan daratan dengan tempat tinggal kita.  Ya, ampun!

NAGA BIRU:
Tenanglah, Kuning. Ia hanya tidak terbiasa keluar melihat daratan tanpa air. Pepohonan tidak ada di laut, juga gunung hijau, juga lembah yang berbau embun.

NAGA PUTIH : (memekik)
Kalian semua! Kalian!! Coba dengar itu!

NAGA HITAM:
Apa? Apa?

LAMBAT LAUN TERDENGAR SUARA-SUARA. ADA TANGISAN, ADA RINTIHAN. MAKIN LAMA MAKIN BESAR.

NAGA BIRU:
Kedengaran seperti… seperti…

NAGA KUNING:
…seperti ada yang mengaduh, sepertinya ada yang kesakitan. Bisa jadi kebakaran, mungkin? Atau gunung Kun Lun runtuh!

NAGA PUTIH:
Bukan! Itu suara permohonan! Seperti doa yang tidak kunjung putus!

NAGA HITAM:
Perkara hujan!

BEBERAPA ORANG MUNCUL BERJALAN TERSEOK-SEOK, BERSIMPUH LUTUT MEMOHON KE LANGIT. SESAJEN BERUPA BUAH-BUAHAN, DAGING, DAN DUPA ADA DI HADAPAN MEREKA.

PENDUDUK 1:
Kaisar Langit! Dengar doa kami! Turunkanlah hujan! Bumi pertanian kami kering kerontang, kelaparan menghantam perut dan dada kami. Kaisar Langit, beri kami hujan, untuk memberi makan nasi pada anak-anak kami!

PENDUDUK 2 :
Kaisar Langit! Beri kami hujan. Bumi kami tidak hanya habis pakannya, udara yang kami rasakan juga semakin panas. Kaisar Langit! Beri kami hujan untuk minum kami.

SUARA MAKIN LAMA MAKIN KECIL SEBELUM KEMUDIAN HILANG BERSAMAAN DENGAN PENDUDUK-PENDUDUK YANG KELUAR PANGGUNG.

NAGA KUNING:
Daratan yang tidak memiliki air. Oh, kasihan sekali mereka itu.

NAGA PUTIH:
Perkara ini harus segera di bawa ke hadapan Kaisar Langit.

NAGA HITAM: 
Ya, mari kita pergi ke istana langit secepatnya.

---
2
ISTANA LANGIT
KAISAR LANGIT DITEMANI DAYANG-DAYANGNYA TENGAH MENDENGARKAN MUSIK DI TAMAN ISTANA LANGIT.

KAISAR LANGIT: (tertawa)
Menari ya, terus menari, kalian semua.

AJUDAN: (berlari mendekati)
Panjang umur, ya Kaisar Langit. Empat naga dari laut timur datang berkunjung, meminta kesediaan Yang Mulia untuk menemui mereka.

KAISAR LANGIT:
Ya, ya. Bawa mereka ke sini.

NAGA HITAM :
Panjang umur ya Kaisar Langit.

KAISAR LANGIT : (mengusir dayang-dayang)
Bicaralah cepat. Ada perkara apa sampai kau harus ditemani oleh seluruh saudaramu ke tempat ini, hei Naga Hitam.

NAGA KUNING:
Perkara besar, Yang Mulia.

NAGA BIRU:
Mendesak, Yang Mulia.

NAGA PUTIH:
Menyangkut seluruh daratan, Yang Mulia.

KAISAR LANGIT:
Tentang apa?

NAGA HITAM:
Tentang hujan, Yang Mulia. Sewaktu kami tengah terbang melintasi daratan, kami mendapati banyak dupa dan doa memenuhi seluruh langit, dan orang-orang berkerumunan. Berlutut. Nama Yang Mulia Kaisar langit berkali-kali disebut. Ladang kering kerontang, orang tua-tua kehausan, kelaparan! Mereka meminta hujan turun, Yang Mulia.

NAGA PUTIH:
Mohon Yang Mulia menurunkan hujan!

NAGA KUNING: (serempak dengan Naga Biru)
Mohon Yang Mulia mengabulkan!

KAISAR LANGIT: (setelah lama diam)
Bukan tanpa alasan mengapa aku tidak menurunkan hujan, hei kalian para naga. Urusan langit bukanlah urusan yang sepatutnya kalian campuri.

NAGA BIRU:
Tapi, Yang Mulia…

KAISAR LANGIT: (mengangkat tangan)
Sudah sekian tahun, Naga Biru, sekian tahun… mereka tidak lagi mempersembahkan pada leluhur hasil tani dan ternak terbaik mereka. Lalim! Hilang tanggung jawab mereka terhadap dewa-dewa dan leluhur. Terhadap Kaisar Langit!

NAGA PUTIH :
Yang Mulia…

KAISAR LANGIT:
Perkara ini sudah selesai. Kembalilah kalian. Hujan akan turun kembali ketika waktunya tiba.

NAGA HITAM:
Mohon, Yang Mulia Kaisar Langit memikirkan kembali!

KAISAR LANGIT:
Pulanglah kalian. Perkara ini sudah selesai.
                                                            
KAISAR LANGIT DAN DAYANG-DAYANG KELUAR PANGGUNG

NAGA PUTIH:
Bagaimana bisa pimpinan tertinggi istana langit tidak mengidahkan permohonan orang-orang di bawah sana itu? Aku bahkan bisa mendengar suara rintihan mereka dari sini.

NAGA KUNING:
Suara mereka menyayat.

NAGA BIRU:
Bersabarlah. Kaisar Langit akan menurunkan hujan.

NAGA PUTIH:
Ya, tapi kapan? Ketika sudah waktunya manusia-manusia itu mati semua?

NAGA HITAM:
Jaga bicaramu, Putih.

NAGA PUTIH:
Tapi kita harus melakukan sesuatu! Aku tidak bisa diam dan berpangku tangan seperti ini sementara mereka sengsara.

NAGA KUNING:
Kita bisa memberikan… air dari rumah kita.

NAGA BIRU: (bersemangat)
Ide bagus! Sekelumit air tidak akan membuat laut berkurang.

NAGA PUTIH:
Dua kelumit air pasti bisa membuat padi berbuah beras.

NAGA HITAM:
Mari, kita turunkan hujan kita sendiri untuk manusia-manusia itu.
---
3
ISTANA LANGIT
KAISAR LANGIT TENGAH MENULIS DENGAN BULU, SESEKALI BERDEHAM, SESEKALI MENGELUS JENGGOTNYA.

AJUDAN :
Yang Mulia Dewa Bumi datang menghadap!

DEWA BUMI: (tergesa-gesa)
Panjang umur Yang Mulia Kaisar Langit. Berita menghebohkan, Yang Mulia! Sangat mengejutkan.

KAISAR LANGIT:
Pelankan suaramu! Bicara yang benar. Ada apa?

DEWA BUMI:
Ampun, Yang Mulia. Hujan turun sepanjang daratan, Yang Mulia. Secara tiba-tiba di bulan paling panas sepanjang tahun ini dan sangat deras.

KAISAR LANGIT:
Apa?! Hujan turun? Bagaimana bisa?

DEWA BUMI:
Hamba tidak tahu, Yang Mulia.

KAISAR LANGIT:
Lancang! Melangkahi Kaisar Langit! Berani-beraninya! Pergi! Bawa para pengacau yang tidak tahu malu itu ke hadapanku!

DEWA BUMI: (menyembah)
Yang Mulia.

KAISAR LANGIT BERJALAN MONDAR-MANDIR, GELISAH.
EMPAT NAGA MUNCUL DISERTAI OLEH DEWA BUMI DAN PENGAWAL.

AJUDAN :
Yang Mulia Dewa Bumi menghadap!

DEWA BUMI:
Yang Mulia, hamba membawa mereka ini yang telah lancang menurunkan air.

KAISAR LANGIT:
Kalian! Lancang! Berani-beraninya! Sudah aku bilang perkara langit bukanlah urusan kalian!

NAGA PUTIH:
Yang Mulia, daratan sekarat!

NAGA KUNING:
Mereka bisa mati kapanpun.

NAGA BIRU:
Tidak akan ada persembahan terbaik lagi.

KAISAR LANGIT:
Diam! Kalian semua tidak berhak bicara. Kalian dilarang untuk membuka mulut. Adalah hukuman bagi kalian berempat yang telah lancang menyalahi peraturan langit. Dewa Bumi, kurung mereka berempat di bawah gunung-gunungmu!

NAGA HITAM :
Yang Mulia!

NAGA PUTIH :
Hamba sekalian tidak bersalah!

NAGA BIRU:
Daratan sekarat! Hamba sekalian hanya memberikan air!

NAGA KUNING:
Yang Mulia!!

KAISAR LANGIT KELUAR PANGGUNG.
DEWA BUMI MEMISAHKAN KEEMPAT DARI MEREKA ITU BERJAUH-JAUHAN, BEBATUAN JATUH MENIMPA KEEMPATNYA. TERDENGAR SUARA RINTIHAN, ERANGAN, BERUBAH MENJADI TERIAKAN LALU DIAM.

DEWA BUMI :
Ah! Air? Air apa ini yang merembes dari bawah gunung?

PENGAWAL:
Air… air yang berasal dari gunung para Naga, Yang Mulia.

DEWA BUMI: (panik)
Bendung air-air itu! Bendung! Jangan sampai tidak.

PENGAWAL :
Terlalu deras, Yang Mulia!

TERDENGAR SUARA AIR YANG DERAS DAN BAIK DEWA BUMI MAUPUN PENGAWAL TERSAPU AIR-AIR BESAR YANG BERKUMPULAN TERSEBUT.

PENDUDUK 1:
Sungai, ayah…

PENDUDUK 2:
Ya, sungai. Kita harus mengucap syukur pada para Naga, anakku.

PENDUDUK 1:
Kenapa ayah?

PENDUDUK2:
Karena tanpa mereka kita pasti akan binasa.

KEDUANYA BERLUTUT DAN MENYEMBAH, LANTAS BERGANDENGAN TANGAN SEBELUM AKHIRNYA PANGGUNG MENJADI GELAP KEMBALI. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.