Di bulan Juli, tertanggal tiga puluh satu,
nostalgia jatuh meradang.
Bunyinya
seperti gemuruh kereta dari kejauhan yang berkelindan dengan suara jangkrik
pada musim kemarau. Kamu membayangkan, adalah hitam dan putihnya memori ketika
kita pertama kali bertemu. Dan sebenarnya hal itu bukanlah hal yang sepatutnya
mendapat tempat di pikiran kita, kamu bilang.
Mendulang
memori, menumbuhkan benih cinta untuk memori. Bukan hal-hal yang bisa membuat
kita menjadi lebih maju dari tempat kita berada sekarang.
Tapi bulan Juli tetap bulan Juli
seperti tahun-tahun sebelumnya. Punya tiga puluh satu hari, datangnya sebelum
bulan Agustus panas meradang membakar kulit.Dan ada yang tidak berubah dari
bulan Juli. Kenampakan hitam yang belakangan muncul di langit, kamu bilang,
mungkin adalah perpanjangan tangan dari Tuhan; mengguratkan anomali pada
penampang biru paling bersih. Katamu juga, ini bukan yang pertama kalinya.
Sembilan belas tahun yang lalu kamu juga pernah menyaksikannya bersama ayahmu
dan nisan ibumu yang basah dibelai hujan. Dan itu bisa berarti buruk atau juga
berkah, sekadar dadu yang digulirkan pada hari paling membosankan.
“Contohnya apa?”
“Contoh yang mana?”
“Yang buruk atau berkah itu..”
Wajahmu menggelap di bawah lindungan
gemawan mendung, mencoba berpikir. “Misalnya saja,” kamu memulai seiringan
dengan hembusan asap rokok, dengan pandangan menerawang, “Yang berkah itu
adalah perjumpaan pertama; jatuh cinta.”
Dasar klise. “Dan yang buruk?”
Kamu merenung sejenak, merebahkan
diri di padang rumput lantas terpekur pada fokus maya di penghujung pandangan.
Jatuhnya tatapanmu seperti nelangsa yang menguntai sendu paling kelabu,
mengalahkan mendung. Ya, mendung.
“Mungkin jatuh yang tidak cinta.”
Mendengar itu saya lantas mendengus
tersenyum. Bukan karena tidak sulit untuk membayangkan bagian dari tubuh
imajiner yang seringkali dibangga-banggakan oleh para penyair retak dihembus
angin.
“Jatuh… yang tidak cinta, ya?” bibir
saya mengulangi, mata saya menyambangi mata kamu yang sepertinya tenggelam
dalam kenamaan mendung bulan Juli. “Yang seperti bagaimana?”
Lamat pandanganmu tetap terpekur
pada gemawan kelabu sebelum akhirnya menyambut tanya saya dengan senyum getir.
“Yang seperti kamu dan saya.”
Komentar
Posting Komentar