Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Adjektiva

Bicara soal sederhana, juga soal cuaca adalah perkara yang lumrah. Biasanya, berawal dari suatu pagi, di mana kami biasa beranjak dari tempat tidur dengan membawa kantuk yang memberatkan langkah. Rasa malas jadi unsur utama kami memilih untuk duduk-duduk saja di warung kopi depan gang. Sementara itu rasa bosan menjadi sebuah alasan pembenaran untuk berbatang-batang rokok yang kami bakar. Padahal kami sudah tahu sejak dari dulu, adjektiva tidak mungkin dimaknai dengan satu standarisasi. Beda, kami pikir. Perbedaan yang seterusnya membuat kami merasa humor perlu untuk diselipkan dalam beberapa kesempatan supaya pada akhir hari masing-masing terhanyut dalam kepala sendiri. Beda, seterusnya berbeda. Tapi kenapa argumen tentang adjektiva ini tidak putus dan berhenti? Selalu ada yang baru. Selalu ada hal usang yang berusaha di perbaharui. Ah… sekali lagi segurat senyuman muncul. Sialan.

Jumat Agung

Koor gereja berkumandang hampir menjelang pukul tiga sore.             Jumat Agung. Langit mendung, sangat berangin. Gemerisik yang terdengar dari kanan kiri gereja lebih mirip dengan suara kerumunan yang bersungut-sungut; lebih bising daripada lautan jemaat berpakaian serba hitam yang tengah khusyuk menghaturkan sepenggalan kalimat mengiba. Beberapa ada yang sibuk mengelap kucuran air mata dari pelupuk mata mereka masing-masing, sebagian ditelan sunyi yang kelewat pekat. Ada yang sedikit berdengik ketika kesadaran mereka semakin menyatu dengan suara nyanyian koor gereja hampir seperti terkena asma. Sedih dan sedih. Dari berkabung menjadi duka panjang yang melengking bernada. Meski demikian, ada juga yang tertawa.  Itu, di sana, di sebelah patung Bunda Maria yang terbuat dari pualam dihiasi terlalu banyak lilin permohonan. Seorang kakek tua dengan rambut kelabu kusut tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari serangan ...

Bicara Soal Sederhana

“Jadi menurutmu ini adalah kado terbaik?” “Tentang apa ya?” “Ya itu.” “Oh. Ya enggak tahu. Kado ini kubikin dari kemarin. Semedi empat minggu, seminggu siapin bahan; sibuk baca buku ini-itu. Dua belas jam menulis dengan panduan KBBI. Menurutmu?” “Oke, baik.” “ Judging? ” “Apa? Aku?” “Iya.” “Pertanyaan bukan?” “Loh, ya sedikitnya bukan. Banyaknya sih iya.” “….” “ Judging? ” “Sedikit.” “Oh.” “Benda-benda langit Cuma representasi yang kelewat biasa. Juga cantik. Kita tidak biasa melihat kecantikan dalam benda-benda yang tidak biasa di eksplorasi orang. Jadi ya ,bagus, ceritamu itu. ” “Maksudmu?” “Bulan, dari dulu katanya cantik. Matahari terbenam, dari dulu katanya cantik. Musim gugur juga seperti itu, meski kita tinggal di garis khatulistiwa yang notabene gak punya empat iklim. Lihat? Semuanya terlalu biasa. Aku bilang sekali lagi, itu terlalu biasa.” “Tapi kan iya, cantik, kan?” “Iya. Cantik. Mbosenin .” “Lah m...

Alasan

Jatuh itu sederhana. Kamu di kemudimu, saya di sebelah, berusaha mengendalikan laju tarikan gravitasi yang terlalu berat. Sumpah demi semua yang berbadan, saya sudah menyangkal kejatuhan itu dari awal. Sudah mewanti-wanti bahwa saya tidak mau lagi berada di keberadaan yang nilainya Cuma tak lebih dari satu helaan napas. Gampang dilupakan, Cuma teman terbaik disaat yang terakhir. Napas Cuma dibutuhkan untuk pompaan yang lebih berarti lagi; sebuah alasan yang saya tidak mau menerimanya dari awal. Karena jatuh ini bukan karena tanpa alasan. Awalnya ini tanpa alasan, lama-lama beralasan. Mungkin karena saya berusaha dengan keras mencari dari mana sensasi nyaman yang saya rasakan ketika dekat dengan kamu itu berasal. Saya tipe tukang mikir hal gak penting, mungkin. Mudah mengutarakan perasaan, mungkin. Meski yang kedua harus saya sangkal, sebab menuliskan semua ini sama sekali tidak mudah. Butuh amunisi kenangan yang larat dengan karat dan ketidak nyamanan bodoh serta ketakutan...

Kepada Kamu

Ini adalah sebuah tantangan. Dari tumblr, bikin surat. Kebetulan saya butuh curhat maka jadilah seperti ini. Saya memang pengecut, tapi apalah asiknya kalau sampai menyebutkan oknum dalam sini? Maka baiknya ini ditujukan kepada kamu. Kepada kamu. Iya, cuma kamu. Salah seorang dari kiblat saya, tempat imajinasi saya mengakar dan menjalar. Sudah jarang pakai sepatu Kickersnya, ya? Sudah jarang juga memakai jaket putih dengan ujung-ujung biru. Sekarang lebih sering memakai yang hitam-hitam. Serba hitam, serba misterius. Atau karena kamu tengah berduka karena sesuatu? Dengar-dengar kamu banyak masalah? Tidak kok. Saya tidak mau mengasihani apalagi menertawai. Saya masih sayang kamu, sebagaimana kamu yang saya tahu dulu sekali dan juga yang seiring dengan jalannya waktu membeku pada sebuah garis linier di mana tidak pernah ada saya pada titiannya. Ini cuma simpati yang tersisa. Tempatmu adalah yang tak terjamah. Bukan dunia yang bisa saya datangi sewaktu saya sadar sepenuhn...

Ben

"Suara pertamanya adalah suara kehilangan."

Nyonya Besar

Sebuah ruang tengah. Besar, tidak terlalu megah. Ada sebuah pintu mengarah ke ruangan lainnya dalam bangunan tersebut. Pintu yang sederhana meski memiliki gagang berbentuk burung volturi. Berawal dari sebuah sore, kita bisa mendengar sebuah musik mengalun dari balik pintu tersebut. Lembut, elegan, seperti sebuah suara dari masa lalu di mana lagu-lagu di radio masih terdengar begitu asing. Dari dalam pintu itu, seseorang keluar sembari merapikan bajunya. Rapi, necis, dengan rambut digulung ketat. Andjani… Andjani! Menghela napas, kesalnya makin bertubi-tubi Pembantu zaman sekarang! Dipanggil bukannya menyahut, malah ngingkar. Pura-pura budek.! DJANIIIIIII! Terduduk kemudian Alah, sudahlah. Sa karepmu! Heran, padahal sudah saya bilang kalau saya bakal pergi hari ini. Bukannya siap sedia berada di pos jaganya, malah mangkir. Bagaimana nanti kalau Mas Tomy dan Romy datang menjemput coba? Siapa yang bakal membuka gerbang kalau mereka mengklakson mobil? Berteriak...