“Jadi menurutmu
ini adalah kado terbaik?”
“Tentang apa ya?”
“Ya itu.”
“Oh. Ya enggak
tahu. Kado ini kubikin dari kemarin. Semedi empat minggu, seminggu siapin
bahan; sibuk baca buku ini-itu. Dua belas jam menulis dengan panduan KBBI.
Menurutmu?”
“Oke, baik.”
“Judging?”
“Apa? Aku?”
“Iya.”
“Pertanyaan
bukan?”
“Loh, ya
sedikitnya bukan. Banyaknya sih iya.”
“….”
“Judging?”
“Sedikit.”
“Oh.”
“Benda-benda
langit Cuma representasi yang kelewat biasa. Juga cantik. Kita tidak biasa
melihat kecantikan dalam benda-benda yang tidak biasa di eksplorasi orang. Jadi
ya ,bagus, ceritamu itu. ”
“Maksudmu?”
“Bulan, dari
dulu katanya cantik. Matahari terbenam, dari dulu katanya cantik. Musim gugur
juga seperti itu, meski kita tinggal di garis khatulistiwa yang notabene gak
punya empat iklim. Lihat? Semuanya terlalu biasa. Aku bilang sekali lagi, itu
terlalu biasa.”
“Tapi kan iya,
cantik, kan?”
“Iya. Cantik.
Mbosenin.”
“Lah menurutmu?”
“Entah. Belum
ada yang cantik.”
“Alah, kamu Cuma
nyinyir saja karena gak bisa atau gak biasa melihat sesuatu sesuai dengan kecantikannya, toh?”
“Enggak tahu ya…
mungkin.”
“Sok berlagak
aman-aman saja toh dengan perspektifmu yang melulu mencoba dipahami orang.”
“Mosok sih?”
“Iya toh?”
“Lah, ngotot. Hahahahahaha.
Enggak. Itu kan Cuma pendapat. Subjektif. Sepantasnya pendapat kan Cuma jadi
bumbu dalam perbincangan. Sekarang ginilah, emang kapan pernah aku maksain
pendapat sama kamu? Aku gak maksa pendapat kalau handuk basah bekasku mandi itu
cantik toh? Padahal aku mikir itu cantik banget. Aku juga gak maksa pendapatku
harus banget kamu dengerin. Itu hal remeh. Bumbu, mbak.”
“….iya sih.”
“Yasudah. Aku
jawab apa adanya, kok.”
“Ada apanya
kali.”
“Bebas, mbak.
Sesuka pikiranmu.”
“Eh loh,
ngambek?”
“Hahahaha,
mananya?”
Asap.
Asap yang menguar keluar.
Asap yang menguar keluar.
Terburai.
Satu batang rokok lagi dibakar, masing-masing.
“….”
“Hmmm?”
“Menurutmu aku
gak pantes kasih kado itu, mas?”
“Buat dia?
Pantes-pantes aja. Itu kan curahan jiwa, raga dan waktumu juga.”
“Kapan menurutmu
aku bisa kasih ke dia?”
“Sekarang aja.”
“Eh ya kali. Jam
lima subuh?”
“Ya kalo mau.
Kalo enggak, jangan.”
“Jawabanmu gak
pernah pasti sih mas.”
“Daripada
ngotot. Emang kamu mau denger kalo ngotot?”
“Enggak.”
“Nah kan.”
“Ah… taulah.”
“Hahahahahaha.
Ngambekan. Sok gak ngambekan keliatannya. Tapi pengen diperhatiin.”
“Siapa?”
“Kamu.”
“Enggak.”
“Yaudah kalo
gitu temboknya.”
“Asu!”
“Guguk dong.
Hahahahhahaa.”
“Aku kasih besok
aja. Waktu ngopi berdua.”
“Besok ngopi toh
sama dia?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Ngapain nanya?
Posesif banget.”
“Ya kalo gak
boleh, jangan dijawab.”
“Dih marah.”
“Enggak.”
“Cemburu?”
“Iya.”
“Cemburu?”
“Iya.”
“Loh?”
“Urusanku. Bukan
urusanmu.”
“Hahahahahaha.
Mas… mas… cemburu toh. Makanya sinis banget dari tadi.”
“Perspektifmu,
mbak! Bukan punyaku. Subjektif!”
“Kan pendapat.”
“Iya!”
“Kan bumbu
pembicaraan.”
“Iya! Ngerti!”
“Yasudah toh?”
“Kok ngebales?”
“Loh gak
ngebales kok aku. Cuma mengingatkan. Perkara pandanganmu ngebales atau enggak
terserah kamu, toh?”
“…..”
“Hahahahhaa…
mas, mas. Kok lucu.”
“….”
“Mas.”
“….”
“Mas…”
“….apa?”
“Jadi besok
boleh kasih ke dia?”
“Ya, terserah.”
“Boleh apa
enggak?”
“Terserah.”
“Mas….”
“Terserah!”
“….”
“….”
“Boleh?”
“Hmmm.”
“Setelahnya aku
janji, ngopi sama kamu. Liat bintang sama bulan yang kata kamu gak cantik itu.
Atau dari semenjak matahari mati yang gak banget menurut kamu itu sembari
berharap ada komet lewat di depan mata yang kata kamu cantik banget itu.”
“…..”
“Gimana?”
“….”
“Mas?”
“Iya. Kabarin.”
“Pasti.”
“Tar ingkar.”
“Kapan pernah
ingkar?”
“…..”
“Pernah?”
“Enggak sih.”
“Hehehehe.”
“Jaga diri
besok. Jaga hati.”
“Pasti.”
“…..”
“…..”
“Mas….”
“Ya?”
“Tahu kan aku
ujung-ujungnya balik ke kamu lagi?”
“Tahu.”
“Oke.”
“Oke.”
Asap.
Asap yang menguar keluar.
Terburai.
Satu batang rokok lagi dibakar, masing-masing.
Lalu senyum, tersungging pada bibir keduanya.
Asap yang menguar keluar.
Terburai.
Satu batang rokok lagi dibakar, masing-masing.
Lalu senyum, tersungging pada bibir keduanya.
Ada matahari,
terbit di ujung pandangan.
Ada pemahaman, sebuah tempat untuk pulang dan
merasa aman.
Selalu.
Komentar
Posting Komentar