Langsung ke konten utama

Alasan

Jatuh itu sederhana. Kamu di kemudimu, saya di sebelah, berusaha mengendalikan laju tarikan gravitasi yang terlalu berat.

Sumpah demi semua yang berbadan, saya sudah menyangkal kejatuhan itu dari awal. Sudah mewanti-wanti bahwa saya tidak mau lagi berada di keberadaan yang nilainya Cuma tak lebih dari satu helaan napas. Gampang dilupakan, Cuma teman terbaik disaat yang terakhir. Napas Cuma dibutuhkan untuk pompaan yang lebih berarti lagi; sebuah alasan yang saya tidak mau menerimanya dari awal. Karena jatuh ini bukan karena tanpa alasan.

Awalnya ini tanpa alasan, lama-lama beralasan.

Mungkin karena saya berusaha dengan keras mencari dari mana sensasi nyaman yang saya rasakan ketika dekat dengan kamu itu berasal. Saya tipe tukang mikir hal gak penting, mungkin. Mudah mengutarakan perasaan, mungkin. Meski yang kedua harus saya sangkal, sebab menuliskan semua ini sama sekali tidak mudah. Butuh amunisi kenangan yang larat dengan karat dan ketidak nyamanan bodoh serta ketakutan bahwa kamu bakal membaca tulian ini untuk memulai kata pertama. Dan alasan yang biasa terlintas barangkali saya jatuh pada tarikan gravitasi kamu yang menawarkan sebuah keberadaan.

Eskapisme di tengah dunia saya yang membosankan. Itu, itu saja. Putus asa dengan segala penolakan. Baru mendapati keterpurukan yang bikin gamang pikiran dan nurani. Tahu-tahu kamu datang. Meski menurut kamu itu tidak harusnya terlalu dianggap serius, itu tetap berarti besar buat saya.

Berkali-kali saya bilang saya benci pada orang baik. Berkali-kali pula saya jatuh sayang pada orang baik.

Lantas entah kapan tepatnya, saya selalu menyakiti mereka dengan beban menjadikan mereka sebagai obyek di mana fantasi saya berakar; bahagia-maupun tidak.

Kamupun tidak terkecuali.

Saya merasa berdosa. Untuk jatuh. Untuk sampai hati memiliki imajinasi tentang kamu dan saya di sebuah masa di mana kita bertemu tanpa sengaja, lalu beranjak pergi menulis cerita berdua. Tidak pernah ada masa lalu yang lewat. Percaya bahwa masing-masing dari kita mengharapkan untuk jatuh pertama selamanya sampai maut memisahkan. Saya tidak sampai hati untuk terjebak dalam lingkar kebiasaan yang sama. Tendensi memuja perlahan jadi semacam racun mematikan.

Di tiap-tiap malam, saya memutar kembali kenangan yang berkarat dalam otak saya. Macet dengan segala rasa manis bertumpuk menjadi pejal di tenggorokan saya. Tapi kita—ya, saya terus membayangkan kita memiliki rasa sepemahaman yang sama lewat dialog usang yang saya putar terus dan terus—mungkin terlalu banyak menyerap yang tersirat daripada yang tersurat sehingga sunyi lebih banyak mengambil alih dalam setiap percakapan kita.

Namun demikian, saya bersikeras bahwa kamu sudah tahu. Lantas ini bukan rahasia.

Betapa naifnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Malaikat yang Menyamar - T.S. Arthur (1851)

Malaikat yang Menyamar atau An Angel in Disguise (1851) tampil dalam koleksi cerita T.S. Arthur yang berjudul After a Shadow and Other Stories .  "Manisnya anak yang sakit itu, yang selalu memandangnya dalam cinta, kesabaran, dan rasa syukur seperti madu bagi jiwanya, dan dia menggendongnya dalam hatinya juga dalam pelukannya, sebuah beban yang berharga." Hmayak Artsatpanyan, Sick Child, 1900 Kemalasan, sifat buruk, dan konsumsi alkohol berlebih telah melakukan tugas mengerikan, dan Si Ibu yang mati itu terbujur kaku di tengah anak-anaknya yang malang. Wanita itu jatuh di ambang pintu rumahnya dalam keadaan mabuk, dan meninggal di tengah keberadaan anak-anaknya yang masih kecil serta ketakutan. Kematian menyentuh rasa kemanusian paling mendasar. Wanita ini telah dihina, diolok, dan dikecam oleh hampir setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di desa tersebut; tapi sekarang, bersamaan dengan kabar kematiannya yang disebarkan dari mulut ke mulut dengan nada mura...

Tentang Anu

Nganuannya saya sederhana, sebenarnya.  Kalau nganu sama si anu harus bisa anu yang pelan-pelan. Pendekatan anunya juga harus luar biasa sabarnya, kayak anu-anuan yang ditahan. Tapi kalau begitu jadinya gampang banget, ya gak sih? Anu sama si anu harus anu yang pelan-pelan; keanuaan yang terjadinya lama dan pelan-pelan pastilah nganu sampe langgeng; sayangnya bukan cuma itu aturannya. Ada ratusan aturan peranuan yang harus ditepati dengan konsekuensi berikut ketika aturan-aturan anu itu tidak dianukan; “Tidak melakukan aturan anu yang benar, maka anuan selanjutnya pasti kacau. Tidak memasukan anu pada anu yang tepat, bisa bikin kepala dipenuhi keanuanuan yang bikin anu makin besar. Salah membaca anu malah melakukan anu, luar biasa bodohnya.” Nganu? Ya, anu bangetlah.  Tapi yang nganu-nganu itu, juga peraturan-peraturannya bisa menganukan hidup jadi tenang. Mata jadi anu, hidung jadi anu. Telinga juga dengarnya yang anu-anu saja. Hati terbebas dari anu bahkan jiwa m...