Jatuh itu sederhana. Kamu di kemudimu, saya di sebelah, berusaha mengendalikan laju tarikan gravitasi yang terlalu berat.
Sumpah demi semua yang berbadan, saya sudah menyangkal kejatuhan itu dari awal. Sudah mewanti-wanti bahwa saya tidak mau lagi berada di keberadaan yang nilainya Cuma tak lebih dari satu helaan napas. Gampang dilupakan, Cuma teman terbaik disaat yang terakhir. Napas Cuma dibutuhkan untuk pompaan yang lebih berarti lagi; sebuah alasan yang saya tidak mau menerimanya dari awal. Karena jatuh ini bukan karena tanpa alasan.
Awalnya ini tanpa alasan, lama-lama beralasan.
Mungkin karena saya berusaha dengan keras mencari dari mana sensasi nyaman yang saya rasakan ketika dekat dengan kamu itu berasal. Saya tipe tukang mikir hal gak penting, mungkin. Mudah mengutarakan perasaan, mungkin. Meski yang kedua harus saya sangkal, sebab menuliskan semua ini sama sekali tidak mudah. Butuh amunisi kenangan yang larat dengan karat dan ketidak nyamanan bodoh serta ketakutan bahwa kamu bakal membaca tulian ini untuk memulai kata pertama. Dan alasan yang biasa terlintas barangkali saya jatuh pada tarikan gravitasi kamu yang menawarkan sebuah keberadaan.
Eskapisme di tengah dunia saya yang membosankan. Itu, itu saja. Putus asa dengan segala penolakan. Baru mendapati keterpurukan yang bikin gamang pikiran dan nurani. Tahu-tahu kamu datang. Meski menurut kamu itu tidak harusnya terlalu dianggap serius, itu tetap berarti besar buat saya.
Berkali-kali saya bilang saya benci pada orang baik. Berkali-kali pula saya jatuh sayang pada orang baik.
Lantas entah kapan tepatnya, saya selalu menyakiti mereka dengan beban menjadikan mereka sebagai obyek di mana fantasi saya berakar; bahagia-maupun tidak.
Kamupun tidak terkecuali.
Saya merasa berdosa. Untuk jatuh. Untuk sampai hati memiliki imajinasi tentang kamu dan saya di sebuah masa di mana kita bertemu tanpa sengaja, lalu beranjak pergi menulis cerita berdua. Tidak pernah ada masa lalu yang lewat. Percaya bahwa masing-masing dari kita mengharapkan untuk jatuh pertama selamanya sampai maut memisahkan. Saya tidak sampai hati untuk terjebak dalam lingkar kebiasaan yang sama. Tendensi memuja perlahan jadi semacam racun mematikan.
Di tiap-tiap malam, saya memutar kembali kenangan yang berkarat dalam otak saya. Macet dengan segala rasa manis bertumpuk menjadi pejal di tenggorokan saya. Tapi kita—ya, saya terus membayangkan kita memiliki rasa sepemahaman yang sama lewat dialog usang yang saya putar terus dan terus—mungkin terlalu banyak menyerap yang tersirat daripada yang tersurat sehingga sunyi lebih banyak mengambil alih dalam setiap percakapan kita.
Namun demikian, saya bersikeras bahwa kamu sudah tahu. Lantas ini bukan rahasia.
Betapa naifnya.
Komentar
Posting Komentar