Ini adalah sebuah tantangan. Dari tumblr, bikin surat. Kebetulan saya butuh curhat maka jadilah seperti ini. Saya memang pengecut, tapi apalah asiknya kalau sampai menyebutkan oknum dalam sini?
Maka baiknya ini ditujukan kepada kamu.
Kepada kamu.
Iya, cuma kamu. Salah seorang dari kiblat saya, tempat imajinasi saya mengakar dan menjalar. Sudah jarang pakai sepatu Kickersnya, ya? Sudah jarang juga memakai jaket putih dengan ujung-ujung biru. Sekarang lebih sering memakai yang hitam-hitam. Serba hitam, serba misterius. Atau karena kamu tengah berduka karena sesuatu? Dengar-dengar kamu banyak masalah?
Tidak kok. Saya tidak mau mengasihani apalagi menertawai.
Saya masih sayang kamu, sebagaimana kamu yang saya tahu dulu sekali dan juga yang seiring dengan jalannya waktu membeku pada sebuah garis linier di mana tidak pernah ada saya pada titiannya. Ini cuma simpati yang tersisa.
Tempatmu adalah yang tak terjamah. Bukan dunia yang bisa saya datangi sewaktu saya sadar sepenuhnya saya punya dua kaki. Tidak pernah ada tempat bagi saya untuk bisa melangkah. Kamu itu batu cadas, keras. Setidaknya buat saya.
Kamu asing. Tampak begitu sering saya jumpai hingga banyak dari gestur lakumu melekat jelas dalam pikiran saya, namun begitu tidak pernah saya bisa mengerti. Tidak pernah ada saling tukar kata, apalagi tukar pikiran. Hanya dengar dari cerita sana dan cerita ini, lalu dilengkapi oleh sepotongan kejadian masa lalu sebagai pelengkapnya.
Mungkin saya muak hingga akhirnya menuliskan ini semua, atau bisa jadi saya terlalu merasa berada di atas awan. Saya tidak memahami apapun yang berhubungan dengan kamu, soalnya. Saya salah, mungkin selamanya. Dan karena saya merasa selalu salah maka saya terbeban dengan segala jenis penyakit yang bercokol dalam kepala; mengenai prasangka-prasangka berlebihan yang agaknya sudah meluber dalam beberapa bentuk air asin meluncur dari mata.
Iya, saya mengaku.
Saya menangisi kamu. Bukan sekali, atau dua kali. Sering. Lalu saya ikut menangisi keadaan. Lalu ketidakberdayaan saya untuk menetak-netak tembok tidak kasat mata diantara kita. Juga betapa keberadaan tidak pernah berarti lebih dari sebuah himpitan mengerikan yang mengeringkan tanah landai.
Pun banyak orang mengatakan seharusnya saya tidak usah sajalah meneruskan untaian tangis itu. Toh, kamu juga tidak melihat. Toh, kamu juga merasa terganggu hanya karena pandangan saya pada kamu masih berupa kebiasaan penyayangan yang sama.
Tapi sudahlah. Saya tidak penting. Saya cuma kemasan terburuk dalam keseharian kamu beberapa tahun terakhir ini. Sekadar pemeran figuran yang ditempatkan untuk membuat cobaan menjadi lebih menyebalkan dan patut untuk diumpat dalam hati. Tidak pernah ada yang benar-benar penting dari segala interaksi gestur-laku yang berlebih-lebihan seperti ini.
Meski begitu, bagi saya, kamu pernah menjadi segalanya. Kamu pernah membuat hari-hari saya penuh imajinasi liar seperti bakal jadi bagaimana saya ini sepuluh tahun kemudian; dengan atau tanpa kamu di samping saya. Kamu pernah menyumbang bagian terbesar dari ide-ide dalam cerita saya. Kamu pernah menjadi manisan terpahit saya. Kamu pernah menjelma menjadi mimpi-mimpi paling menggelisahkan saya. Kamu juga pernah menjadi alasan saya untuk menangis beberapa malam sampai mata sembab selain waktu orangtua saya memeluk tanah.
Kamu dan kamu.
Bagaimanapun kamu yang sekarang, saya berterima kasih. Karena adanya kamu, ada saya yang sekarang. Tidaklah saya bisa menyatakan, karena adanya saya maka ada kamu yang sekarang. Sekali lagi, saya cuma pemain figuran. Kamu adalah bintangnya. Debu peri, sentral gravitasi. Dan bagi pemain figuran ini, kamu adalah orang yang kelewat berarti.
Kamu dan kamu.
Saya sayang kamu. Terlepas dari sikapmu dan pandangan orang di sekitar yang menilai perilaku saya gegabah, saya sungguh berharap kamu mendapatkan yang terbaik. Kamu maju, kamu bahagia, kamu tertawa, kamu bebas lepas dari beban. Sesederhana kamu yang sekamu-kamunya.
Semoga seluruh keinginanmu tercapai, semoga semua permasalahanmu semua bisa kamu pecahkan.
Saya, yang sayang kamu.
Maka baiknya ini ditujukan kepada kamu.
Kepada kamu.
Iya, cuma kamu. Salah seorang dari kiblat saya, tempat imajinasi saya mengakar dan menjalar. Sudah jarang pakai sepatu Kickersnya, ya? Sudah jarang juga memakai jaket putih dengan ujung-ujung biru. Sekarang lebih sering memakai yang hitam-hitam. Serba hitam, serba misterius. Atau karena kamu tengah berduka karena sesuatu? Dengar-dengar kamu banyak masalah?
Tidak kok. Saya tidak mau mengasihani apalagi menertawai.
Saya masih sayang kamu, sebagaimana kamu yang saya tahu dulu sekali dan juga yang seiring dengan jalannya waktu membeku pada sebuah garis linier di mana tidak pernah ada saya pada titiannya. Ini cuma simpati yang tersisa.
Tempatmu adalah yang tak terjamah. Bukan dunia yang bisa saya datangi sewaktu saya sadar sepenuhnya saya punya dua kaki. Tidak pernah ada tempat bagi saya untuk bisa melangkah. Kamu itu batu cadas, keras. Setidaknya buat saya.
Kamu asing. Tampak begitu sering saya jumpai hingga banyak dari gestur lakumu melekat jelas dalam pikiran saya, namun begitu tidak pernah saya bisa mengerti. Tidak pernah ada saling tukar kata, apalagi tukar pikiran. Hanya dengar dari cerita sana dan cerita ini, lalu dilengkapi oleh sepotongan kejadian masa lalu sebagai pelengkapnya.
Mungkin saya muak hingga akhirnya menuliskan ini semua, atau bisa jadi saya terlalu merasa berada di atas awan. Saya tidak memahami apapun yang berhubungan dengan kamu, soalnya. Saya salah, mungkin selamanya. Dan karena saya merasa selalu salah maka saya terbeban dengan segala jenis penyakit yang bercokol dalam kepala; mengenai prasangka-prasangka berlebihan yang agaknya sudah meluber dalam beberapa bentuk air asin meluncur dari mata.
Iya, saya mengaku.
Saya menangisi kamu. Bukan sekali, atau dua kali. Sering. Lalu saya ikut menangisi keadaan. Lalu ketidakberdayaan saya untuk menetak-netak tembok tidak kasat mata diantara kita. Juga betapa keberadaan tidak pernah berarti lebih dari sebuah himpitan mengerikan yang mengeringkan tanah landai.
Pun banyak orang mengatakan seharusnya saya tidak usah sajalah meneruskan untaian tangis itu. Toh, kamu juga tidak melihat. Toh, kamu juga merasa terganggu hanya karena pandangan saya pada kamu masih berupa kebiasaan penyayangan yang sama.
Tapi sudahlah. Saya tidak penting. Saya cuma kemasan terburuk dalam keseharian kamu beberapa tahun terakhir ini. Sekadar pemeran figuran yang ditempatkan untuk membuat cobaan menjadi lebih menyebalkan dan patut untuk diumpat dalam hati. Tidak pernah ada yang benar-benar penting dari segala interaksi gestur-laku yang berlebih-lebihan seperti ini.
Meski begitu, bagi saya, kamu pernah menjadi segalanya. Kamu pernah membuat hari-hari saya penuh imajinasi liar seperti bakal jadi bagaimana saya ini sepuluh tahun kemudian; dengan atau tanpa kamu di samping saya. Kamu pernah menyumbang bagian terbesar dari ide-ide dalam cerita saya. Kamu pernah menjadi manisan terpahit saya. Kamu pernah menjelma menjadi mimpi-mimpi paling menggelisahkan saya. Kamu juga pernah menjadi alasan saya untuk menangis beberapa malam sampai mata sembab selain waktu orangtua saya memeluk tanah.
Kamu dan kamu.
Bagaimanapun kamu yang sekarang, saya berterima kasih. Karena adanya kamu, ada saya yang sekarang. Tidaklah saya bisa menyatakan, karena adanya saya maka ada kamu yang sekarang. Sekali lagi, saya cuma pemain figuran. Kamu adalah bintangnya. Debu peri, sentral gravitasi. Dan bagi pemain figuran ini, kamu adalah orang yang kelewat berarti.
Kamu dan kamu.
Saya sayang kamu. Terlepas dari sikapmu dan pandangan orang di sekitar yang menilai perilaku saya gegabah, saya sungguh berharap kamu mendapatkan yang terbaik. Kamu maju, kamu bahagia, kamu tertawa, kamu bebas lepas dari beban. Sesederhana kamu yang sekamu-kamunya.
Semoga seluruh keinginanmu tercapai, semoga semua permasalahanmu semua bisa kamu pecahkan.
Saya, yang sayang kamu.
Komentar
Posting Komentar