Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

5/9

5/11 A birthday gift for Linda Rahardja (: Ramalannya dari Janne, temen RW gue. Gue tahu ini telat, tapi yaddahlah. Enjoy. Btw gue sengaja simbolin semuanya biar lo tebak sendiri. Dia sendiri juga nggak ngasi hasilnya secara gamblang, tho. Cocok nggak? Dia kalau ngeramal gue sering cocok, sih. Oh well, Happy Birthday aja (: Karena dia lahir di tanggal ketika matahari terakhir padam sumbunya. Inkarnasi Proserfina putri Demeter. Mencari Hades. Ya, mencari, dan bukannya ditemukan. Semasa lahir, rambutnya lebat, matanya kuat, kakinya ligat. Seiring dia dewasa, kendati dia cocok mengenakan jingga, tapi otaknya bersikeras bahwa dia menyukai hitam. Ia memanjangkan rambut karena tak suka tengkuknya kelihatan. Nanti, dia akan dewasa, tapi pada tahun ini di mata mentalku masih nampaklah dia sebagai gadis kecil seratus lima puluh senti tepat. Kaus kakinya mirip penari polka. Kulitnya, seperti boneka kewpie. Bulan pertama, sebelas tahun setelah milenium kedua ini, m...

Dulu

Kesendirian mengunjungi saya malam ini. Pukul dua belas lewat empat puluh sekian menit. Sendirian. Sebelah tangannya membawa sebuah kitab pekat warna hitam. Ia tampak begitu gagah, berbalut pekat potongan malam di sekitaran jubah hitamnya yang melambai di belakang. Tapi memang begitulah Kesendirian yang tidak pernah berubah, selalu stagnan. Saya tertegun. “Halo,” ia menyapa. “Halo,” saya menyapa. Lalu kami terdiam. Saya menundukkan wajah, menatap layar laptop yang belakangan menjadi relung eskapis baru bagi saya dan dia mengambil tempat tidak jauh dari saya, menyandarkan tubuh, memandang saya dengan bersidekap. Ada hening, heningg yang begitu lama waktu kami cuma berdua. Sesepi bahasa kesunyian tersebut, cuma diisi oleh bunyi tik-tik-tik jemari saya yang beradu dengan keyboard laptop. “Bagaimana kabarmu?” ia bertanya. “Aku baik. Bagaimana kabarmu?” saya bertanya. Ia diam, tersenyum. Manik hitamnya dingin dan sesepi milik Kesunyian sendiri, menatap saya, me...

Ini Soal Kamu

"Ini soal kamu...." ... .. . Kamu itu tidak ada. Dulunya ada. Sekarang lenyap cuma tinggalkan foto sebagai bekas. Hey, saya iri. Saya ini hadiah tak terduga semesta buat Papa. Lahirnya beda pintu dari kamu, beda suasana, beda kota, beda ranjang, beda dokter, beda jenis kasur, tapi kok kita mirip? Mata sama, pipi sama, mimik sama. Cuma beda umur, rentangnya nyaris belasan tahun. Cuma beda tanggal lahir; kamu dua saya bukan dua. Serupa tapi tak sama. Kamu bibit unggul, saya cuma bibit. *** Kamu itu tidak ada. Dulunya ada, tapi sekarang sudah lenyap. Yang tersisa cuma cerita. Dan Hey… Saya iri. . . . Papa cerita ini sama saya waktu dulu. Ingat rumah kita dulu? Satu kapling, lebar dan tinggi. Penyambung setengah yang berisi kamar kamu dan mama serta perpustakaan tempat papa membawa kerjaannya ke rumah, berupa deretan tanaman berpot besar-kecil. Oh, ya, saya masih ingat. Bahkan sebelumnya saya sudah tahu soal rumah itu sebelum m...

Rindu Peter

Tadinya ia tidak sendiri. Tadinya ia bersama Peter. … .. . Neverland tidak pernah sebegini sepi. Harusnya tidak pernah sepi. Neverland, harusnya menjadi tempat paling menyenangkan. Pulau itu berada di bintang ke dua paling terang dari kiri, yang bisa dicapai jika kau terus terbang sampai pagi mengikuti arah bintang tersebut. Pulau itu terbentuk dengan dominasi warna hijau, dengan bukit-bukitnya yang menakjubkan, dengan hutannya, dengan pesisir pantai karang, dengan kabut yang sesekali turun membagi rasa dingin waktu matahari jadi terlalu terang. Dan pulau itu pernah memiliki suara tawa diantara semak belukarnya juga teriakan imitasi perang yang melengking hebat.  Tinker Bell ingat semua hal yang terbagus dari Neverland. Tinker Bell ingat, apalagi mengenai hari-hari waktu tawa terdengar berkumandang dari pesisir pantai Neverland. Peri itu harus terbang lebih cepat supaya bisa mengimbangi kecepatan teman-temannya yang lari dimaki serombongan pria-wanita bersisik. ...

Kisruh Maya

T udung saji merah yang saya beli beberapa waktu lalu bersama suami masih saja menggantung tak bernyawa di paku baja dekat lemari es. Sedikit berdebu, tertutup lap kotak-kotak kumal yang selalu saya cuci tiap hari minggu. Lilitan rotannya sudah burai ke mana-mana, padahal dipakai saja bisa saya hitung pakai jari. Ibu mertua memang pelit. Ambil sembarang hadiah buat kami dari sampah. Padahal sudah saya sayang-sayang karena itu pemberian yang jarang dari beliau. Ck. Pernah teman saya datang ke rumah, bertanya dengan nadanya yang penuh canda. “Gue baru tau kalo selera lo milih pernik rumah berubah. Sejak kapan lukisan transformasi badan jadi tudung saji?” Oh, dia tergelak bersama beberapa teman saya yang lain, menunjuk-nunjuk sembari menggeleng lihat saya yang ambil nampan, susun gelas, tuang sirup buat suguhan mereka. “Itu hadiah,” ujar saya kalem. “Hadiah?” nada teman saya heran. “Dari siapa?” “Ibu mertua,” Dan sepintas pemahaman langsung muncul diantara teman-...

D-A-D-U

Sudah saya bilang belum kalau orang itu aneh? Enggak. Anehnya lelaki itu berbeda. Bukan jenis aneh yang matanya juling; punya borok bernanah di sekujur tubuhnya. Atau yang bicaranya melenceng jauh dari topik yang dibicarakan seperti seorang idiot. Alih-alih demikian, ia punya segala hal yang bisa kau bayangkan dimiliki oleh seorang―katakanlah―berada. Bersih, uang banyak, wajah lumayan. Jadi apa yang aneh?  “Ini buatmu,” ia berkata sembari duduk dan menyodorkan sebuah kotak merah beledu di hadapan saya. Kalau bukan karena wajahnya yang tampak serius dan nada bicaranya seperti menyuruh, menggaungkan dominasi, saya pasti sudah tertawa. Lucu soalnya. Suara lelaki itu kedengaran cacat karena baru dioperasi. Kedengaran seperti bunyi kumur, kedengarannya aneh. Saya mengerjap. “Ini apa?” saya bertanya, ia tidak menjawab, sibuk dengan entah fokus mana yang menggelayut visinya. Grasa-grusu di belakang saya seolah bikin mental kata-kata saya. “Ini apa?” Sekali lagi. Le...