Langsung ke konten utama

5/9


5/11


A birthday gift for Linda Rahardja (: Ramalannya dari Janne, temen RW gue. Gue tahu ini telat, tapi yaddahlah. Enjoy. Btw gue sengaja simbolin semuanya biar lo tebak sendiri. Dia sendiri juga nggak ngasi hasilnya secara gamblang, tho. Cocok nggak? Dia kalau ngeramal gue sering cocok, sih.
Oh well, Happy Birthday aja (:



Karena dia lahir di tanggal ketika matahari terakhir padam sumbunya. Inkarnasi Proserfina putri Demeter. Mencari Hades. Ya, mencari, dan bukannya ditemukan.

Semasa lahir, rambutnya lebat, matanya kuat, kakinya ligat. Seiring dia dewasa, kendati dia cocok mengenakan jingga, tapi otaknya bersikeras bahwa dia menyukai hitam. Ia memanjangkan rambut karena tak suka tengkuknya kelihatan. Nanti, dia akan dewasa, tapi pada tahun ini di mata mentalku masih nampaklah dia sebagai gadis kecil seratus lima puluh senti tepat. Kaus kakinya mirip penari polka. Kulitnya, seperti boneka kewpie. Bulan pertama, sebelas tahun setelah milenium kedua ini, mereka bilang ia punya masa tenang.

Bulan kedua, ia punya masa berpikir. Bulan ketiga hingga kelima dia pura-pura menikmati apa yang dia punya. Bulan keenam dia menemukan tiang sementara, tapi pada bulan ketujuh dia tebang sendiri pohon elm penyangganya itu. Gadis kita mulai merasa diperlakukan bak keledai. Pada bulan ketujuh, berhujan, langit gelap seperti London tahun 1800-an, tapi dia seceria marigold di bulan Maret.

Ia mengambil sebuah cangkir dari dapur, dan menjeblak payung di atasnya. Mulailah dia menjadi seorang escapee, tak peduli bahwa di rumahnya kira-kira ada tiga nyawa yang berharap ia baik-baik saja. Ia percaya dirinya baik-baik saja; gadis kita ini wataknya keras kepala. Nah, cangkir, kenapa musti cangkir?

Andai, kita diberitahu.

Tip, tap, toe, sepatunya dari kulit kuda. Tip, tap, toe, dia berjalan searah air yang mengaliri jalan. Perlahan dia membuka tutup selokan, lalu meletakkan cangkirnya di atas air itu. Di dalam cangkir ternyata ada cairan dari semacam minyak yang amat, amat kental. Seperti yang diharapkan pada sebuah cangkir yang diletakkan di atas air, maka aliran selokan pun membawanya. Dan gadis itu mengikuti alirannya. Mulanya tenang, karena hujannya tipis, tapi oh, anginnya mengencang. Gadis kita berlari dan tersengal hingga payungnya yang terlupakan terlempar jauh ke sabana di pojok bumi. Demi. Sebuah. Cangkir. Tapi, cangkir itu tak ketemu juga.

Padahal dia sudah tersesat. Di negeri yang bersih selokannya, tapi bejat orang-orangnya.

Ia merasa hilang, bulan itu adalah bulan kedelapan. Dan dia menetap di sana hingga kira-kira bulan kesembilan, di rumah seorang pemain judi yang hatinya baik meski matanya jahat. Tapi pada akhir bulan, dia dipaksa pergi secara halus karena tukang judi itu memiliki masalah dengan gadisnya. Maka pergilah anak ini, tapi hatinya lega. Karena si tukang judi memberinya bekal beberapa lembar uang, sebiji walnut, dan beberapa pengetahuan. Misalnya mengenai bagaimana cara mengakali meja baccarat, dan bagaimana memilih bidang sandaran. Bagaimana dia menjadi sesuatu yang bebas. Bagaimana, dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari si cangkir minyak. Bulan sepuluh, cuaca membaik. Ia berada di titik paling menyebalkan sekaligus paling menyenangkan dalam hidupnya. Ada tanda bahwa seseorang menemukan cangkirnya di utara, namun dia tertahan di sebuah ladang bunga yang memberinya makan nektar, dengan imbalan kakinya harus mau dirantai dengan duri mawar. Kenyamanan yang mengekang. Ia bertahan, lama dan hati-hati, tiap malam membisikkan permohonan pada semesta dengan desibel paling tulus.

Baru pada akhir bulan kesebelas dia diizinkan pergi. Di bawah rinai salju. Tapi dia senang, karena dia memang senang berada dalam masalah dari dulu. Adrenalin. Ketenangan. Kedamaian. Solis memang tak diciptakan untuk terus bercengkrama dengan peri-peri bunga. Eskapis ini tiba di lahan berlumut, hutan palma. Kaus kakinya sobek tapi ia menemukan payungnya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak, di bawah payung itu, untuk belajar cara menggambar yang bagus di atas pasir.

Di atas pasir itu, di luar kuasanya, dia menggali. dan muncullah sumber air berwarna pekat. Mendadak saja dia diingatkan mengenai si cangkir. Lalu ia menangis, karena dia lupa. Tapi karena dia bukan orang yang lemah, dia kembali berjalan. Bulan kedua belas tengah, dia tiba di antara dua gerbang.

Satu dengan lilin putih yang menyala, kepala pegangannya berbentuk Siren. Ia berkata kalau membuka yang ini, hidupnya akan senang. Ambrosia. Madu. Ketenangan. Orang tua.

Satu dengan lilin yang apinya biru, pegangannya berbentuk burung vultura. Berkaok mengerikan, pintu itu bilang kalau membuka yang ini dia akan bertemu dengan si cangkir, tapi jangan harap dia akan senang. Lebih tepatnya, barangkali dia akan kehilangan lebih dari kaus kaki.

Bulan itu adalah pilihan. Dan dia harus memilih. Sementara dia merasa cairan di dalam cangkir itu sudah tumpah… tapi dia percaya masih ada sisanya yang tertinggal di dasar gelas. Pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.