"Ini soal kamu...."
...
..
.
Kamu itu tidak ada.
Dulunya ada. Sekarang lenyap cuma tinggalkan foto sebagai bekas.
Hey, saya iri.
Saya ini hadiah tak terduga semesta buat Papa. Lahirnya beda pintu dari kamu, beda suasana, beda kota, beda ranjang, beda dokter, beda jenis kasur, tapi kok kita mirip?
Mata sama, pipi sama, mimik sama. Cuma beda umur, rentangnya nyaris belasan tahun. Cuma beda tanggal lahir; kamu dua saya bukan dua. Serupa tapi tak sama. Kamu bibit unggul, saya cuma bibit.
***
Kamu itu tidak ada.
Dulunya ada, tapi sekarang sudah lenyap. Yang tersisa cuma cerita.
Dan Hey… Saya iri.
.
.
.
Papa cerita ini sama saya waktu dulu. Ingat rumah kita dulu? Satu kapling, lebar dan tinggi. Penyambung setengah yang berisi kamar kamu dan mama serta perpustakaan tempat papa membawa kerjaannya ke rumah, berupa deretan tanaman berpot besar-kecil.
Oh, ya, saya masih ingat. Bahkan sebelumnya saya sudah tahu soal rumah itu sebelum menjejakkan kaki di halamannya yang punya tanah memerah.
Papa yang cerita. Papa selalu cerita.
Soal kamu, soal mama, soal kalian yang di rumah pada dua pasang kuping kami yang dengar.
Harusnya kamu lihat sendiri, Papa senang waktu cerita. Papa yang kata teman saya seperti beruang hitam besar——biasanya tertawa menggelegar——sebenarnya pendongeng terbaik. Matanya yang sempit membentuk sudut istimewa waktu sebut namamu dan biasanya dia menggelengkan kepalanya waktu saya berbuat konyol.
Kata Papa kamu juga suka banget berbuat konyol. Waktu itu bulan sedang penuh dan rumah kita punya dua pintu keluar. Kamu yang masih kecil keluar dan memandang terkagum-kagum pada bulan itu. “Ah itu satu,” kata kamu sama Papa.
“Iya bulan adanya satu,” Papa bilang.
“Engga dong, Pap. Bulannya dua,” kamu membantah. “Ini satu,” kata kamu sembari berlarian lewat pintu ke belakang dan terus ke pintu depan. “Terus itu satu.”
Kamu dibilang si ‘bego-pinter’ sama Papa dan saya tertawa.
Lalu saya berdiri dan bertanya-tanya apa memang di dua matamu selalu ada dua bulan? Mukamu waktu bilang itu tuh bagaimana, sih?
Saya jadi kepingin ketemu kamu. Minimal jadi seperti kamu. Soalnya kamu pintar, kamu cantik, kamu baik, kamu kebangaan Papa.
Saya berdiri dan cari sesuatu buat dilakukan waktu itu. Saya menunduk, pintu lemari kaca terbuka lebar. Saya tahu kelak saya bakal membenturkan kepala dan Papa lihat, tapi begitu inginnya saya untuk bisa dibilang konyol seperti kamu saya diam-diam saja. Hasilnya saya menangis sesegukan. Itu sakit… sakit sekali. Dan Papa cuma bilang sama saya,
“Kalau Lila itu ‘bego-pinter’ kamu itu ‘pinter-bego’.”
***
Kamu sudah tidak ada.
Dulunya ada, tapi sudah berpulang lama. Tinggalkan kesan dan cerita.
Hey, saya iri.
Kagum-marah-rindu-iri-sayang.
Itu saya terhadap kamu.
Kamu yang baik, kamu yang dicintai semua orang. Saya mencoba benci, tapi kamu yang hidup dari cerita Papa langsung pada saya adalah kamu yang mudah dicintai oleh siapapun.
Kamu, kamu yang berniat menjadi dokter. Kamu yang berbakat mengkali angka, merumuskan rumus ini dan itu, yang cinta belajar. Kamu yang tidak pernah sekalipun saya lihat dengan mata ini walau saya terus mengadu supaya bisa dipertemukan pada kamu.
Kamu, kamu, kamu yang kamarnya pernah saya tempati. Kamu yang punya sekotak perhiasan luar biasa dengan ukiran namamu, baju-baju bagus, buku-buku lupus, kamar sendiri yang berpendingin ruangan dan pemandangan menyenangkan langsung ke taman depan rumah.
Kagum-marah-iri-rindu-sayang.
Terhadap kamu yang cuma saya kenal dari cerita Papa, dari sepi Mama yang kehilangan kamu dan tulisan teman-teman kamu waktu kamu terbaring di rumah sakit.
Saya pernah mencoba untuk membenci kamu, jujur.
Tapi saya selalu kalah pada rasa kagum yang luar biasa, pada kamu yang dengan mudah dicintai oleh sekeliling kamu.
Saya sayang kamu, terlepas dari apa kita pernah bertemu atau belum.
Saya sayang kamu, terlepas dari bagaimana saya ini adalah seluruhnya kebalikan dari kamu.
Saya sayang kamu, selalu.
Selamat Hari Jadi, Lil. =)
Adikmu, Si Bukan Angka Dua.
Komentar
Posting Komentar