Kesendirian mengunjungi saya malam ini.
Pukul dua belas lewat empat puluh sekian menit. Sendirian. Sebelah tangannya membawa sebuah kitab pekat warna hitam. Ia tampak begitu gagah, berbalut pekat potongan malam di sekitaran jubah hitamnya yang melambai di belakang. Tapi memang begitulah Kesendirian yang tidak pernah berubah, selalu stagnan.
Saya tertegun.
“Halo,” ia menyapa.
“Halo,” saya menyapa.
Lalu kami terdiam.
Saya menundukkan wajah, menatap layar laptop yang belakangan menjadi relung eskapis baru bagi saya dan dia mengambil tempat tidak jauh dari saya, menyandarkan tubuh, memandang saya dengan bersidekap. Ada hening, heningg yang begitu lama waktu kami cuma berdua. Sesepi bahasa kesunyian tersebut, cuma diisi oleh bunyi tik-tik-tik jemari saya yang beradu dengan keyboard laptop.
“Bagaimana kabarmu?” ia bertanya.
“Aku baik. Bagaimana kabarmu?” saya bertanya.
Ia diam, tersenyum.
Manik hitamnya dingin dan sesepi milik Kesunyian sendiri, menatap saya, menembus bagian terdalam. Dan saya tertegun, tergugu menatapnya. Ada rasa tidak puas, ada senyum, tergurat pongah pada wajahnya yang dingin sebelum pecah menjadi seringai mengolok. Dan saya merasa terpojok, mengalihkan tatapan dari padanya.
“Lantas… Kenapa diam? Kenapa menangis?” ia bertanya.
“Lantas…. Kenapa bertanya? Kenapa tertawa?” saya bertanya.
Ia mendengus.
“Tidak usah marah, karena aku tahu.”
“Tidak marah, kau tahu.”
“Oke.”
“Oke.”
“Ingat siapa sampai diam dan menangis?”
“Bukan ingat siapa-siapa.”
“Aku tahu. Aku tahu.”
“Tahu. Kau tahu. Lalu kenapa bertanya?”
Ia menghela napasnya. Pekat, hitam pekat. Tapi saya tidak gentar. Saya tetap mengobarkan segenggam kebencian, segenggam amarah pada ia yang menggali dan terus menggali hal yang saya timbun di dalam. Ia bergerak mendekat satu langkah. Saya bergerak menjauh dua langkah. Tangannya membeku di udara, cepat-cepat ia menarik tangannya yang kemudian mengepal erat-erat.
“Karena aku ingin seperti dulu.”
“Dulu. Dulu. DULU! Dulu itu berubah jadi sekarang. Sekarang berubah menjadi nanti. Ada yang namanya perubahan. Dinamis!”
“Untukmu, memang selalu ‘ya’.”
Saya memandang lamat, dalam. “Dan untukmu tidak.”
Ia menganggukkan kepalanya. Tersenyum pahit. Dan saya kira saya sudah berubah, jauh… jauh berubah dari sebelum ini. Toh saya sudah sembilan belas, dipenghujung belasan menanjak puluhan. Toh saya sudah punya banyak senang; sudah berubah jadi Briar Rose yang mencucukkan jemari dengan sengaja, bertemu mimpi-mimpi lama. Harusnya bukan menjadi saya yang tujuhbelas atau bahkan enambelas. Tapi nyatanya tidak.
Saya tetap luluh padanya.
Kesendirian merangkul saya dengan dua tangannya, memeluk saya. Segalanya lantas terburai keluar begitu saja. Meleleh sampai teras asin di dalam mulut. Meleleh… sampai rasanya gigi gemeletukan.
“Tujuh tahun harusnya berakhir.”
“Aku tahu.”
“Tiga bulan harusnya tidak membekas.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Kalau ini berakhir aku mati.”
“Tidak akan.”
“Apa kau bisa berjanji kalau aku tidak mati?”
Kesendirian diam.
“Bisa?”
“Jangan bercanda.”
“Nah. Bahkan kau tidak bisa berjanji.”
“Karena itu tidak dibutuhkan.”
“Tapi yang ini tidak bisa berhenti. Yang ini terus meminta. Yang ini tidak berubah.”
“Aku tahu.”
“Yang itu tidak bisa hilang. Yang itu cuma kukubur. Jauh jauh makin dalam.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu?”
“Ya.”
“Apa aku harus berhenti?”
“Ya jika kau hilang harapan.”
“Apa berhenti itu mudah?”
“Cuma persoalan menemukan keberanian buat berkata cukup.”
“Yang ini terus… terus meminta. Yang ini terus…. terus… menunggu. Yang ini terus.. terus… terperangkap…”
“Cuma persoalan kapan harus menengadahkan kepala dan berjalan.”
“…..dan yang ini terus menangis. Memohon, menangis, memohon.”
Saya terisak, mengepalkan jemari tangan sampai begitu keras, sampai begitu kebas. Yang lain-lain tercurah dan makin lama makin menderas. Meleleh sampai bisa saya rasakan rasa asin itu berkumpul di mulut saya.
Kesendirian menepuk-nepuk punggung saya, pelukannya makin erat. Ia tidak punya banyak hangat, ia dingin sebagaimana saya terus mengingatnya dalam kepala. Ia Kesendirian yang sama, ia tidak berubah. Jujur dan apa adanya. Belahan jiwa saya. Dan saya cuma seorang pengemis, terkukung dalam batasan terlihat dan dilihat, melangkah dan berhenti, menangis dan memohon. Berubah… tapi sebenarnya cuma menggali lubang hitam lebih dalam lagi. Selebihnya sama.
“Ssst. Aku menemanimu, selalu.”
“Tapi yang ini belum berhenti, tidak bisa dipahami.”
“Ssst. Tidak apa. Aku menemanimu, selalu. Seperti dulu.”
_________
Jakarta, 8 September 2011, dini hari.
(ditulis dengan mata perih, segulung tisu, dan lagu That Man - Hyun Bin mengalun dari iTunes)
Pukul dua belas lewat empat puluh sekian menit. Sendirian. Sebelah tangannya membawa sebuah kitab pekat warna hitam. Ia tampak begitu gagah, berbalut pekat potongan malam di sekitaran jubah hitamnya yang melambai di belakang. Tapi memang begitulah Kesendirian yang tidak pernah berubah, selalu stagnan.
Saya tertegun.
“Halo,” ia menyapa.
“Halo,” saya menyapa.
Lalu kami terdiam.
Saya menundukkan wajah, menatap layar laptop yang belakangan menjadi relung eskapis baru bagi saya dan dia mengambil tempat tidak jauh dari saya, menyandarkan tubuh, memandang saya dengan bersidekap. Ada hening, heningg yang begitu lama waktu kami cuma berdua. Sesepi bahasa kesunyian tersebut, cuma diisi oleh bunyi tik-tik-tik jemari saya yang beradu dengan keyboard laptop.
“Bagaimana kabarmu?” ia bertanya.
“Aku baik. Bagaimana kabarmu?” saya bertanya.
Ia diam, tersenyum.
Manik hitamnya dingin dan sesepi milik Kesunyian sendiri, menatap saya, menembus bagian terdalam. Dan saya tertegun, tergugu menatapnya. Ada rasa tidak puas, ada senyum, tergurat pongah pada wajahnya yang dingin sebelum pecah menjadi seringai mengolok. Dan saya merasa terpojok, mengalihkan tatapan dari padanya.
“Lantas… Kenapa diam? Kenapa menangis?” ia bertanya.
“Lantas…. Kenapa bertanya? Kenapa tertawa?” saya bertanya.
Ia mendengus.
“Tidak usah marah, karena aku tahu.”
“Tidak marah, kau tahu.”
“Oke.”
“Oke.”
“Ingat siapa sampai diam dan menangis?”
“Bukan ingat siapa-siapa.”
“Aku tahu. Aku tahu.”
“Tahu. Kau tahu. Lalu kenapa bertanya?”
Ia menghela napasnya. Pekat, hitam pekat. Tapi saya tidak gentar. Saya tetap mengobarkan segenggam kebencian, segenggam amarah pada ia yang menggali dan terus menggali hal yang saya timbun di dalam. Ia bergerak mendekat satu langkah. Saya bergerak menjauh dua langkah. Tangannya membeku di udara, cepat-cepat ia menarik tangannya yang kemudian mengepal erat-erat.
“Karena aku ingin seperti dulu.”
“Dulu. Dulu. DULU! Dulu itu berubah jadi sekarang. Sekarang berubah menjadi nanti. Ada yang namanya perubahan. Dinamis!”
“Untukmu, memang selalu ‘ya’.”
Saya memandang lamat, dalam. “Dan untukmu tidak.”
Ia menganggukkan kepalanya. Tersenyum pahit. Dan saya kira saya sudah berubah, jauh… jauh berubah dari sebelum ini. Toh saya sudah sembilan belas, dipenghujung belasan menanjak puluhan. Toh saya sudah punya banyak senang; sudah berubah jadi Briar Rose yang mencucukkan jemari dengan sengaja, bertemu mimpi-mimpi lama. Harusnya bukan menjadi saya yang tujuhbelas atau bahkan enambelas. Tapi nyatanya tidak.
Saya tetap luluh padanya.
Kesendirian merangkul saya dengan dua tangannya, memeluk saya. Segalanya lantas terburai keluar begitu saja. Meleleh sampai teras asin di dalam mulut. Meleleh… sampai rasanya gigi gemeletukan.
“Tujuh tahun harusnya berakhir.”
“Aku tahu.”
“Tiga bulan harusnya tidak membekas.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Kalau ini berakhir aku mati.”
“Tidak akan.”
“Apa kau bisa berjanji kalau aku tidak mati?”
Kesendirian diam.
“Bisa?”
“Jangan bercanda.”
“Nah. Bahkan kau tidak bisa berjanji.”
“Karena itu tidak dibutuhkan.”
“Tapi yang ini tidak bisa berhenti. Yang ini terus meminta. Yang ini tidak berubah.”
“Aku tahu.”
“Yang itu tidak bisa hilang. Yang itu cuma kukubur. Jauh jauh makin dalam.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu?”
“Ya.”
“Apa aku harus berhenti?”
“Ya jika kau hilang harapan.”
“Apa berhenti itu mudah?”
“Cuma persoalan menemukan keberanian buat berkata cukup.”
“Yang ini terus… terus meminta. Yang ini terus…. terus… menunggu. Yang ini terus.. terus… terperangkap…”
“Cuma persoalan kapan harus menengadahkan kepala dan berjalan.”
“…..dan yang ini terus menangis. Memohon, menangis, memohon.”
Saya terisak, mengepalkan jemari tangan sampai begitu keras, sampai begitu kebas. Yang lain-lain tercurah dan makin lama makin menderas. Meleleh sampai bisa saya rasakan rasa asin itu berkumpul di mulut saya.
Kesendirian menepuk-nepuk punggung saya, pelukannya makin erat. Ia tidak punya banyak hangat, ia dingin sebagaimana saya terus mengingatnya dalam kepala. Ia Kesendirian yang sama, ia tidak berubah. Jujur dan apa adanya. Belahan jiwa saya. Dan saya cuma seorang pengemis, terkukung dalam batasan terlihat dan dilihat, melangkah dan berhenti, menangis dan memohon. Berubah… tapi sebenarnya cuma menggali lubang hitam lebih dalam lagi. Selebihnya sama.
“Ssst. Aku menemanimu, selalu.”
“Tapi yang ini belum berhenti, tidak bisa dipahami.”
“Ssst. Tidak apa. Aku menemanimu, selalu. Seperti dulu.”
_________
Jakarta, 8 September 2011, dini hari.
(ditulis dengan mata perih, segulung tisu, dan lagu That Man - Hyun Bin mengalun dari iTunes)
Komentar
Posting Komentar