Sudah saya bilang belum kalau orang itu aneh?
Enggak.
Anehnya lelaki itu berbeda. Bukan jenis aneh yang matanya juling; punya borok bernanah di sekujur tubuhnya. Atau yang bicaranya melenceng jauh dari topik yang dibicarakan seperti seorang idiot. Alih-alih demikian, ia punya segala hal yang bisa kau bayangkan dimiliki oleh seorang―katakanlah―berada. Bersih, uang banyak, wajah lumayan.
Jadi apa yang aneh?
“Ini buatmu,” ia berkata sembari duduk dan menyodorkan sebuah kotak merah beledu di hadapan saya. Kalau bukan karena wajahnya yang tampak serius dan nada bicaranya seperti menyuruh, menggaungkan dominasi, saya pasti sudah tertawa. Lucu soalnya. Suara lelaki itu kedengaran cacat karena baru dioperasi. Kedengaran seperti bunyi kumur, kedengarannya aneh.
Saya mengerjap.
“Ini apa?” saya bertanya, ia tidak menjawab, sibuk dengan entah fokus mana yang menggelayut visinya. Grasa-grusu di belakang saya seolah bikin mental kata-kata saya.
“Ini apa?”
Sekali lagi. Lebih keras.
Terkutuklah hari itu, saya pikir. Restoran anonim yang sering kami jadikan tempat untuk menghabiskan waktu hari itu seolah berkhianat. Ramai, sesak, banyak bisik-bisik di sana-sini, lebih banyak lagi dentingan garpu dan gelas. Bikin saya berpikir, apakah ini semacam konspirasi buat privasi kami? Apa semesta sebegitu tidak sukanya saya sering bersama dengan lelaki itu di tempat ini sampai malam sembari bicara ngalor-ngidul tak peduli konten bahasa?
“Hadiah. Biar kamu ingat aku.”
Kening saya tambah berkerut, seperti kerutan diatas karpet kesayangan tante saya yang kumal dan bau anjing. Wah, wah, sejak kapan orang ini menjadi begitu romantis? Kotak beledu warna merah. Ajakan makan siang di restoran favorit. Tidak ada canda gurau bergaya sinis seperti biasa. Mau melamar ceritanya, hmm?
……
Tolol.
Pikiran itu benar-benar tolol.
Pikiran tolol yang kemudian sulit sekali untuk bisa diinterpretasikan sebagai lelucon. Maksud saya, atmosfernya jelas. Gelisah pria di hadapan saya ini jelas. Kotak yang pria itu bilang sebagai hadiah juga jelas―tergeletak di meja, warnanya merah.
Saya menghela napas, menahan antisipasi. Jemari tangan elus penampang kotak itu. Sensasi meraba kain beledu pembungkusnya bikin saya geli sendiri. Sembari membuka kotak itu pelan-pelan saya mulai meracau sinting dalam hati. Ini cincin. Ini pasti cincin. Jadi apakah kami akhirnya sampai pada tahap itu? Saya membatin. Pertemanan selama tiga belas tahun dan di titik inikah perasaan itu berubah―dari teman baik menjadi, ehm, katakanlah calon suami istri?
Tapi, ya ampun, norak benar dia! Cincin di kotak beledu sudah bukan tren zaman sekarang. Era globalisasi ini orang mudah saja kirim pesan singkat bilang, “Ayo kita menikah!” dan sebulan kemudian sebar undangan. Peduli apa setahun kemudian cerai? Yang penting mereka punya satu cerita tolol buat dibagi. Gak klise, gak seperti zaman-zaman dulu yang harus pesan satu restoran sendiri, sewa pemain biola dan kasih kotak cincin sambil berlutut. Jadi barangkali kotak itu bukan seperti yang saya bayangkan sebelumnya, saya membatin.
Enggak mungkin, saya tegaskan sekali lagi. Karena kalau menilik lagi ke masa lalu, riwayat pertemanan kami sebenarnya buruk. Sangat buruk. Kami tidak membagi tawa. Kami saling memaki. Kami saling bersaing satu sama lain. Kontradiktif kalau kata teman saya.
Ia dan saya bukan saling mengisi―kami saling menghakimi.
“Ini….”
“―yeah, itu. Lucu kan?” ia bilang, nadanya seperti diburu.
Sial sekali pakai motong-motong perkataan orang segala. Lelaki itu menyembunyikan senyum dibalik dua punggung tangannya yang tergamit satu sama lain di depan bibirnya. Kemudian mencondongkan tubuh, meraih kotak beledu merah dengan isinya. Dua jarinya memutar-mutar objek dengan titik-titik simbolis di sekujur tubuh putihnya.
Sebuah dadu.
Saya mendengus, menggelengkan kepala. Humor orang ini selalu diluar ekspektasi saya. “Jadi tujuan kamu bikin saya datang ke tempat ini untuk makan siang di hari sepanas ini Cuma buat kasih saya…. dadu?” saya tertawa pelan―sinis. “Kamu mau saya ngapain? Mikirin peluang jadi bandar judi Macau?”
Seseorang di belakang meja kami bersin, keras sekali, saya sampai terlonjak mendecapkan lidah. Waktu saya kembali menatap wajahnya, ia seperti berpikir keras. Alisnya bertaut, bibirnya mengerucut. Ekspresinya persis seperti anak kecil yang lupa material ujian, menyibukkan diri dengan memutar-mutar dadunya, berpikir sebaiknya dari mana ia harus mulai mengarang jawabannya.
“Ini produk baru. Masih desain kasar,” ia menimbang-nimbang. “Aku pikir kamu suka. Soalnya, kamu yang bilang kerja itu harus inovatif. Bikin sesuatu bukan Cuma dari yang ada di buku majalah dan buku karangan alumni. Bukan dari sesuatu yang sudah ada terus diberi sentuhan sendiri. Kamu yang bilang kalau―ah sudahlah…”
Alis mata saya terangkat sebelah. “Kapan saya bilang begitu?”
“Kemarin.”
“Kemarin kita gak ketemu. Kamu sedang kencan sama teman kantormu.”
Ia tergagap. “A-aah..” Strike, hmm?
Lelaki itu berdeham, menyibakkan rambutnya dengan tangan kanan, kelihatan sekali gelisah. Wajahnya begitu melihat ke arah saya langsung berubah serius lagi, seninya menguasai roman muka memang sudah setingkat politikus.
“Itu…. Urusanku. Jadi, bagaimana menurut kamu? Mau tarik ucapanmu yang bilang aku gak inovatif atau aku harus bikin sesuatu serunyam mahkota duri?”
Saya diam, hilang kata buat sekedar komentar mengenai betapa tololnya dia. Betapa absurdnya tindakannya. Betapa menggelikannya tabit ingin selalu dipuji oleh saya selama ini. Apa otaknya sinting? Apakah ternyata saingan saya selama ini―yang bersumpah setia sampai akhir hayat akan tetap menjadi rival dalam soal penimbunan harta―sudah hilang akalnya? Orang bilang kegagalan rumah tangga bisa bikin stress. Dampaknya sampai bisa membuat seseorang kehilangan akal sehatnya. Jadi gila.
Akhirnya saya tertawa miris, mencondongkan tubuh, merenggut dadu seukuran lubang gembok dan coba mengikuti fase orang dihadapannya ini.
“Kenapa harus dadu?” saya bertanya, menilik dari berbagai sisi kubus tersebut.
Lirik bagian atas, bawah, sisi kiri, sisi kanan. Tidak ada simbol angka dua dan yang lainnya. Cuma satu-satu ceruk berisi permata kecil pada masing-masing sisi.
“Kenapa Cuma kamu kasih matanya satu-satu di masing sisi. Mana dua, mana tiga, mana yang lain?”
Ia tersenyum dikulum. Matanya gelap, menatap mata saya lurus-lurus. Teman saya bilang ia punya sesuatu di mata itu. Kelebatan yang angkuh, yang ambisius, yang bikin semua lawannya gentar. Saya yang bingung waktu mereka bilang begitu. Bagi saya dia ya dia. Tidak sama dengan yang dipikirkan orang soal dia. Sosok lucu dengan arogansi seperti kucing hitam―bikin takut dengan luaran yang penuh mitos buruk tapi sebenarnya butuh untuk dipeluk. Terus kau bertanya kenapa saya bisa dekat dengannya? Sayapun tak tahu. Cuma soal siapa menemukan siapa di waktu yang tepat barangkali.
“Coba tebak arti filosofisnya.”
Saya terhenyak. Bukan tipikal saya buat menebak sesuatu yang ada dipikiran orang lain meskipun saya suka menginterpretasikan segala macam gambar berkaitan dengan homosapiens yang bergerak di sekeliling saya, tapi ini pengecualian. Cuma sekali lagi ini saja. Mungkin.
“Karena satu itu ada hubungannya dengan Tuhan?”
Ishhh…coba dengar kalimat itu lagi. Saya tiba-tiba jadi si religius. Padahal daripada pergi ke gereja, mendengar ocehan sinting tentang neraka-surga, saya lebih memilih ke pasar beli sekerat daging dan setandan pisang buat makan orok kakak perempuan saya.
Ia menggeleng. “Kamu agnostik, tapi bicara soal Tuhan?”
“Loh?” Saya mengerjap, kaget. “Ini ada hubungannya dengan saya?”
“Tentu saja, memang siapa lagi?” ia mengerutkan kening lagi. Gestur tubuhnya seolah berkata bahwa saya ini idiot yang gak bisa mencerna informasi sejelas matahari itu terbit dari timur, bukannya barat.
Sinting, saya pikir. Saya coba untuk berpikir sekali lagi. Kali ini dari sisi saya sendiri. “Karena satu adalah lambang dari pribadi seperti saya di kehidupan kamu?” Saya tergelak dengan jawaban saya sendiri. Ge-er? Bolehlah sesekali. He.
Ia menggeleng lagi. “Yang seperti kamu banyak, Cuma beda nama saja.”
“Bangsat, kamu,” saya tertawa, ia tersenyum.
“Jadi…?”
Saya mengangkat bahu. Ide serasa banyak di kepala, berdesak-desakkan mencoba buat keluar dari pikiran saya. Tapi semuanya tersangkut di belakang tenggorokan, mengganjal.
“Saya menyerah.”
Kali ini giliran ia yang tergelak. Matanya melembut, terus mengukir senyum. Guratan tawanya tampak jelas dan dalam, mengikuti bentuk ekor matanya. “Payah kamu. Aku pikir kamu bisa menjawab soal ini dengan tepat,” ujarnya dalam tawa selembut dentingan nada fa suara bas. Ia mengambil jeda, menghela napas, meraih tangan saya dan meremasnya lembut.
“Kenapa satu? Karena berkat kamu, semua perkataan kamu, dia―satu-satunya yang bisa buat hidup saya utuh―kembali,”
“Dia?”
“Dia.” Ia mengangguk, suaranya yang cacat terdengar kalem, remasannya makin intens. “Dadu itu simbolisasi, pengingat. Orang cari eskapisme dengan cara berpikir bahwa akan selalu ada kesempatan lain buat lempar dadu dalam mencari pasangan hidup. Dapat angka dua, artinya hilang yang pertama kamu pasti bakal dapat yang kedua. Dapat angka tiga, artinya hilang yang pertama, hilang yang kedua, kamu bakal dapat yang ketiga. Begitulah…”
“Tunggu,” saya mengangkat tangan, coba menghentikan penjelasan abstrak ini. Pikiran berlomba, mencoba mencerna omongan pria sinting itu. “Bisa enggak kamu bicara dengan bahasa yang mudah dipahami, please?”
Pria itu tertawa pelan. “Kamu yang selama ini bilang otakku bebal. Bukannya kamu penulis, sastrais, seorang filsuf sealiran Sokrates? Sekarang dikasih teka-teki begini saja masa bingung?”
Bah.
Tubuhnya condong ke depan, meraih dadunya lagi. “Aku gak mau jadi orang yang ngelempar dadu dan dapat angka dua. Kamu tahu sendiri bagaimana dia. Perempuan itu sempurna. Aku jatuh cinta sama dia. Aku nikahi dia, aku cerai sama dia. Aku jadi gila beberapa waktu ini, memang. Coba cari pelarian, coba mematikan rasa sendiri. Tapi gak bisa. Dia itu angka satu di daduku, kamu ngerti?”
“Engga,” jawab saya, mulai merasa horor sendiri. Jelas tahu kemana pembicaraan ini akan bermuara. Dan firasat saya bilang tutup kuping. Tutup kuping sekarang, sebelum sesuatu yang sudah saya pelihara kena libas akhir kata-kata pria itu.
“Dia, perempuan itu, adalah angka satu buatku. Yang terakhir di semua sisi. Tidak ada yang namanya perempuan kedua. Cuma satu. Cuma dia. Cuma satu kesempatan lagi buat dapatin dia kembali.”
“Jadi, kamu―maksud kamu…”.
“Kami bakal rujuk kembali.”
Ia tersenyum, napas saya sesak mendadak. Dan hening yang tercipta diantara kami berdua merenggut semuanya. Imaji saya, kesadaran saya, cinta saya.
_____________________________
Jakarta, 14 Juli 2011
Komentar
Posting Komentar