Tadinya ia tidak sendiri. Tadinya ia bersama Peter.
…
..
.
Neverland tidak pernah sebegini sepi.
Harusnya tidak pernah sepi.
Neverland, harusnya menjadi tempat paling menyenangkan. Pulau itu berada di bintang ke dua paling terang dari kiri, yang bisa dicapai jika kau terus terbang sampai pagi mengikuti arah bintang tersebut. Pulau itu terbentuk dengan dominasi warna hijau, dengan bukit-bukitnya yang menakjubkan, dengan hutannya, dengan pesisir pantai karang, dengan kabut yang sesekali turun membagi rasa dingin waktu matahari jadi terlalu terang. Dan pulau itu pernah memiliki suara tawa diantara semak belukarnya juga teriakan imitasi perang yang melengking hebat.
Tinker Bell ingat semua hal yang terbagus dari Neverland. Tinker Bell ingat, apalagi mengenai hari-hari waktu tawa terdengar berkumandang dari pesisir pantai Neverland. Peri itu harus terbang lebih cepat supaya bisa mengimbangi kecepatan teman-temannya yang lari dimaki serombongan pria-wanita bersisik. Ia terpelanting, kehabisan bubuk peri dan untungnya diselamatkan oleh Nibs. Lebih-lebih waktu tawa Anak-Anak Yang Hilang terdengar paling kencang selagi Wendy Darling datang ke tempat ini. Dan meski ia membenci ingatannya yang terakhir—-membenci Wendy Darling dan adik-adik sialannya itu, lebih tepatnya——Tinker Bell harus mengakui bahwa saat itu adalah saat terbahagianya.
Menghela napas. Menghelaaa napas.
Karena tawa sudah tidak lagi terdengar di Neverland dan Tinker Bell termangu di antara dahan Rumah Pohon. Sebelah tangan mungilnya menopang dagu sebelahnya lagi bermain-main dengan gagang cermin buatannya yang pertama.
Karena ia rindu tawa. Ia rindu Peter.
***
Adalah seorang anak lelaki yang pertama kali dilihatnya malam itu. Ia memiliki rambut sepirang jerami, mata sehijau daun kristal. Bibirnya tipis dengan sudut yang rasa-rasanya bakal menciptakan senyum termanis jika ia tertawa. Anak itu juga memiliki tubuhnya memang tidak seberapa tinggi tapi terkesan tangkas, tegap, dibalut piama tidur garis-garis.
“Oh, ada anak lelaki!” seru Tinker Bell dari balik sesemakan. Kalau kau adalah manusia, suaranya terdengar seperti bel kecil. Berdering, berdering, berdering. Tapi kalau kau adalah peri, suara itu terdengar nyaring. Sangat nyaring.
“Ssshhh, Tinker Bell! Shhhh!” seorang peri menghardik, mengatupkan rahang perinya keras-keras. Rambutnya hitam legam, menjuntai lemas sampai ke pangkal sayapnya. Ia cantik, sangat cantik. Ia memakai baju yang terbuat dari air, memantulkan cahaya bulan. Tapi jelas ia tidak senang.
“Ups. Maaf,” Tinker Bell menutup mulutnya, terkekeh meminta maaf. Peri itu kembali menunduk rendah sampai nyaris rata di atas daun sesemakan yang paling tebal, melihat ke sepanjang taman kosong, kembali ke anak lelaki tadi. “Sori, Silvermist.”
Silvermist menggelengkan kepalanya. “Hati-hati kedengaran, Tink. Ingat, kita ke sini untuk melakukan tugas. TUGAS. Kita harus membawa musim semi ke Mainland. Bukan untuk lihat-lihat anak lelaki.”
“Aku tahu. Aku tahu. Tapi ayolah, Silvermist. Ini anak lelaki. Manusia sungguhan,” Tinkerbell bilang, bibirnya merekah dengan senyum lebar.
“Terance juga anak le——ehem. Maksudku peri lelaki.”
“Beda.”
“Dimana bedanya?”
“Terance punya sayap.”
“Lalu?”
“Anak lelaki itu tidak punya sayap.”
“Tapi tetap lelaki.”
“Iya aku tahu. Tapi beda. Beda, beda, beda, Silvermist. Beda.”
Tinkerbell terengah, masih memandangi si anak lelaki yang sekarang duduk di ayunan; kakinya mendorong ayunan supaya bergoyang pelan sementara kepalanya tertunduk menahan kuap. Masih tersenyum tanpa terlintas dalam pikirannya bahwa anak itu bisa jadi tersesat, bisa jadi kabur dari rumah, bisa jadi anak nakal. Oh! Peri tidak peduli akan hal itu. Peri tidak picik!
“Okay Tink. Beda. Yaampun, kau ini kenapa sih?”
“Aku?” Tink menoleh, terkekeh. “Aku terinspirasi, Silvermist. Dia bisa jadi bahan kajianku. Bisa jadi teman diskusi untuk bicara soal alat-alat luar biasa milik manusia!”
“Oh tidak…”
“Tidak?”
“Tidak.”
“Tidak??”
“Tidak, Tink,” Silvermist menggelengkan kepalanya. “Ingat kata Ratu soal tugas peri?”
“Bahwa peri membawa musim semi ke Mainland? Tentu.”
“Soal manusia?”
Tink memutar bola matanya, berpikir keras. “Hmm.. manusia… kita terlahir dari tawa pertama bayi manusia?”
“Bukan! Bukan yang itu!”
“….ah! Manusia perlu naik benda bersayap baja untuk terbang!”
“Buuukaaann!”
“Lalu?”
“Peri tidak boleh kelihatan manusia waktu membawa musim semi. Bahaya Tink. Bahaya!”
“Oh,” Tink mendesah, bahunya melorot. Peri itu kembali meratakan tubuhnya di daun paling tebal dan memandang anak lelaki tadi yang tertawa pelan sembari membuat ayunannya bergoyang makin keras. Dari cemberut, Tink kembali tersenyum melihat pemandangan itu. “…tapi dia kelihatan tidak bahaya. Dia kelihatan baik. Hmm hmmm. Baik.”
Silvermist memutar bola matanya, terbang mendekat, menarik pergelangan tangan Tink. “Yang baik itu madu; Alam. Manusia berubah dan cuma bisa melupakan. Ayo cepatlah bersiap-siap. Matahari sebentar lagi akan bersinar.”
“Ah tunggu, tunggu, tunggu dulu…” Tink mengerang. “…aku lupa sesuatu, Silvermist.”
“Lupa apa?”
Diam. Diam yang berjeda. Lantas Tink nyengir lebar, merogoh kantungnya dan menebarkan debu peri ke seluruh tubuhnya. Seketika ia merasa lebih hidup, lebih kuat dan kedua sayapnya merentang lebar. “Lupa kalau aku mau kasih salam sama anak lelaki itu,” ia tergelak sembari terbang.
Tinggi, tinggi dan melesat cepat keluar dari tempat persembunyiannya, menabrak sisi tubuh si anak lelaki, meninggalkan Silvermist berteriak dengan suara menderu seperti buih air laut diantara sesemakan.
Tink tidak peduli, Tink bukan peri licik. Ia mengaduh kesakitan memang, sayapnya sedikit bengkok. Tapi kemudian anak lelaki itu melihatnya. Ia turun dari ayunan, meraup Tink dalam genggamannya——oh! Betapa kecilnya!——mendekatkan wajahnya yang terperangah.
Tink tidak peduli, Tink bukan peri licik. Tidak sampai kepikiran bahwa anak itu bakal takut. Penampilannya bagus kok, rapi. Tidak sampai kepikiran juga bahwa anak itu kemudian malah tertawa. Suaranya luar biasa merdu dan senyumnya manis sekali. Tidak juga sampai kepikiran ia bakal meninggalkan Pixie Hollow nantinya, cari tempat menyenangkan yang jauh dari Mainland, berusaha membujuk Terance supaya memberinya persediaan bubuk peri lebih banyak, dan entah berapa nanti di waktu mendatang peri itu akan menyesali yang sekarang ini.
Tink tidak peduli, Tink bukan peri licik. Pertemuan harus selalu disambut baik, disambut dengan tawa yang berbalas. Dan begitulah ia bertemu dengan anak lelaki itu. Anak lelaki yang bernama `Peter`.
***
Ia rindu Peter, sampai sayap-sayap perinya terasa bergeletar.
Kalau ini adalah hari yang dulu, sebelum Wendy Darling datang, hari sebegini cerah pasti akan dimanfaatkan oleh mereka untuk bermain perang-perangan. Peter adalah seorang yang gagah, mencoba menyelamatkan Nibs dari tangan penculik Indian. Sementara Tink terbang berputar menendang kuping Tootles dan si kembar yang berperan sebagai Indian. Di akhir hari mereka akan tertawa-tawa, memakan pai daging lantas terlelap dengan kotoran masih menempel di baju mereka.
“Never say Never. Never.”
Ia rindu Peter, sampai sayap-sayap perinya terasa bergeletar.
Kalau ini adalah hari yang dulu, sebelum Wendy Darling datang, di hari sebegini cerah, di mana angin berhembus pelan dan awan berarak dari utara pulau sampai ke bagian paling selatan, Tink pasti tidak menghabiskan waktunya untuk termangu di Rumah Pohon. Ia akan terbang mengelilingi pulau bersama Peter dan Anak-Anak Hilang. Mereka akan memetik buah delima, memakannya ramai-ramai lantas menertawai sudut bibir masing-masing yang memerah. Di akhir hari mereka akan bernyanyi, duduk di meja lebar, memakan pai daging. Lalu terlelap, dengan kotoran masih menempel di baju mereka.
“Never say Never. Here and there…”
Ia rindu Peter, sampai sayap-sayap perinya terasa bergeletar.
Kalau ini adalah salah satu dari hari yang dulu, sebelum Wendy Darling datang, maka Tink akan senang. Peter tidak pergi, masih di sini. Anak-Anak Hilang tidak murung, masih tertawa. Mereka akan bermain, mereka akan adu berteriak. “I do believe in faries! I do believe in faries! WE DO BELIEVE IN FAIRIES!” Lantas mantra itu melipat gandakan debu peri di kantung Tink dan mereka akan terbang. Hamburkan semuanya, buat terbang semuanya. Tertawa-tawa sampai sepanjang hari.
Peter senang dan tidak bertanya. Ia lupa soal asalnya. Ia tidak menyinggung-nyinggung soal kalimat pertama waktu mereka berdua bertemu. Tidak juga berusaha terbang menuju rumahnya yang dulu di Mainland. Jauh sebelum Wendy Darling tiba, mereka tertawa dan tertawa. Bersuka cita!
“Never say Never. Never in Neverland!”
Ia rindu Peter, sampai bahunya juga ikut bergertar.
Waktu itu bukan hari yang dulu, waktu Wendy Darling belum datang dan Tink tidak senang. Peter termangu matanya menerawang jauh, menopang dagunya, duduk-duduk di dahan tertinggi rumah pohon. Harusnya mereka bermain, menjahili Kapten Hook dan bermain dengan penghuni Neverland. Oh, Ratu Peri! Jadwal mereka padat sekali dan Peter sama sekali tidak peduli!
“Tink,” Peter memanggil.
“Yaaa?” Tinker Bell menggumam, duduk di bahu anak lelaki itu. Peri itu menunggu, memandang sayang pada wajah lawan bicaranya, membayangkan senyuman manisnya melebar. Tapi Peter tidak bicara, tidak melihat ke arahnya, cuma menghela napas.
Diam yang berjeda.
“Apa pulang itu seenak pai daging?”
Tink mengerjapkan mata, mengerutkan kening. “Ti—-dak. Pulang tidak enak.”
“Tapi pasti pulang itu menyenangkan.”
“Kenapa senang?”
“Kenapa senang??”
“Ya! Kenapa, senang? Pulang berarti tidak bisa bermain!” ujar Tink tidak sabar, wajahnya lebih merah daripada tomat. “Pulang berarti bukan Neverland.”
Peter menghela napas, lamat. Tidak ada senyum kesukaan Tink tergurat di wajahnya, cuma garis tipis. “Wendy pulang. Apa pulang berarti bisa bertemu dengan Wendy?”
Tink termangu, lidahnya kelu, sama seperti sekarang waktu langit abu-abu jadi membiru. Apa itu yang ada di mata Peter waktu bilang bisa bertemu dengan Wendy? Apa itu yang sembunyi dibalik bibir tipis Peter waktu bilang pulang berarti bisa bertemu dengan Wendy? Tink menggigit bibirnya.
“Peter mau bertemu Wendy?”
“Peter mau bertemu Wendy.”
Dan Peter tidak pernah kembali. Lagi.
Jakarta, 28 Agustus 2011
Komentar
Posting Komentar