Langsung ke konten utama

Kisruh Maya


T
udung saji merah yang saya beli beberapa waktu lalu bersama suami masih saja menggantung tak bernyawa di paku baja dekat lemari es. Sedikit berdebu, tertutup lap kotak-kotak kumal yang selalu saya cuci tiap hari minggu. Lilitan rotannya sudah burai ke mana-mana, padahal dipakai saja bisa saya hitung pakai jari. Ibu mertua memang pelit. Ambil sembarang hadiah buat kami dari sampah. Padahal sudah saya sayang-sayang karena itu pemberian yang jarang dari beliau. Ck.
Pernah teman saya datang ke rumah, bertanya dengan nadanya yang penuh canda. “Gue baru tau kalo selera lo milih pernik rumah berubah. Sejak kapan lukisan transformasi badan jadi tudung saji?” Oh, dia tergelak bersama beberapa teman saya yang lain, menunjuk-nunjuk sembari menggeleng lihat saya yang ambil nampan, susun gelas, tuang sirup buat suguhan mereka.
“Itu hadiah,” ujar saya kalem.
“Hadiah?” nada teman saya heran. “Dari siapa?”
“Ibu mertua,”
Dan sepintas pemahaman langsung muncul diantara teman-teman saya. Mereka bertukar tatapan di belakang saya yang berjalan dengan nampan, yang coba alihkan pikiran dari betapa teman-temannya pasti mengasihani di belakang. Mereka beda dengan saya. Mereka kawin dengan dokter, pengacara, notaries, semua yang bikin firmanya sendiri di rumah. Yang kas keluar masuknya bisa dilihat langsung dari laci meja. Lain halnya dengan saya. 
Saya kawin dengan bujangan penuh gairah menggebu. Pribadi yang harusnya jadi pemimpin tapi malah melalang buana diantara objek makhluk hidup dibelantara hutan; seorang fotografer freelance untuk majalah hewan, yang kepulangannya saja Cuma terhitung tiga-empat kali setahun. Yang meninggalkan saya diejek ibu mertuanya setiap kali beliau datang dengan setandan pisang dan tudung saji bobrok sembari terus bertanya-tanya, “Suamimu pulangnya kapan sih, nduk?”
Saya Cuma bisa tersenyum, menggeleng halus, merasakan jantung ini berdegup tiba-tiba dengan kecepatan diatas normal. Coba saya seperti Retno yang prinsipnya keras, ambisius, kawin begitu dia mereguk sukses dan punya villa di Puncak. Coba saya seperti Asri yang dipinang Hendra, dokter bedah Rumah Sakit Siloam, setidaknya saya bisa jelas kapan makan kapan harus belanja. Bukannya tergopoh-gopoh membagi ini itu demi si jabang bayi dalam kandungan dan kebutuhan saya sendiri sebagai seorang manusia, butuh pemuasan raga dan batin, butuh rekreasi.
Enggak.
Tenang saja.
Saya bukan mengeluh.
Saya yang memilih ini semua. Dari siapa saya mau senggama hingga kawin di usia muda. Dua puluh tahun, belum dapat ijazah saya sudah gelar resepsi duluan. Papa mama gak komentar, mereka dengar saya karena saya anak paling bungsu di rumah―kakak-kakak saya punya anak nyaris seumuran saya soalnya. Mungkin mereka pikir lebih baik begitu. Tubuh renta dan pikiran letih bikin mereka lupa peran mereka yang seperti sinetron-sinetron itu. Lupa kalau mereka harusnya jadi Capulet yang menolak Romeo datang meminang Juliet. Jadi dengan itu semua berakhirlah saya di sini, terlunta-lunta kangen masakan mama, hitung uang makan bulanan supaya cukup buat makan juga jalan-jalan sebulan sekali dan menggelayuti komputer bekas yang saya beli dari sisa-sisa tabungan pribadi saya.
Internet adalah eskapisme, sementara modem adalah Juru Selamat saya. Murtad terhadap Kristus yang tidak lagi saya bersihkan patungnya, siang malam saya cari seseorang untuk diajak bicara di dunia maya. Coba bayangkan mereka ngobrol secara nyata dengan saya, berhadap-hadapan, dengan teh dan kue kering bikinan sendiri alih-alih menganggap mereka sedatar sensasi ketikan hitam di atas layar putih. Sebuah hiburan nyata bagi wanita jarang senggama seperti saya. Yang dimulainya selalu tepat pukul Sembilan malam, seperti sekarang ini.

mayalatuhari bergabung dengan percakapan.

Mayalatuhari : Malem. J

angiska_silalahi : waaaahhh tanteeeeeeeee

Ferdian_83 : malam maya J
Ferdian_83 : kok tumben olnya lama?
Ferdian_83 : suami pulang ya. Lol.

Mayalatuhari : @Giska ya sayaaanggg *tium-tium*
Mayalatuhari : Ahhh enggak kok Fer.. teman baru pulang. Hehe.
Mayalatuhari : Ada cerita apa nih?

angiska_silalahi : Giska baru beres job di mulia tante

Mayalatuhari : oh ya? Wahh makan-makan dong J

angiska_silalahi : boro deh tan… giska gag dapet honor -_________-

Mayalatuhari : loh? Kok begitu?

Ferdian_83 : giska baru nonjok cowok barunya wkwkwkwk

Mayalatuhari : nonjok?

angiska_silalahi : iiishhh ooommm, jangan langsung buka kartu doong =3=

Ferdian_83 : =P

Mayalatuhari : memang kenapa, gis?

angiska_silalahi : …itu.. cowoknya gila. Penjahat kelamin =))

Ferdian_83 : malah ketawa -_-“a

Mayalatuhari : Ih, serem dong. Kamu diapain, gis? Lapor polisi gak?

Angiska_silalahi : @oom fer biarinnn =p @tante may : itu tanteee …
Angiska_silalahi : giska disuruh buka baju buat motretan sama temennya cowokku
Angiska_silalahi : sempet dipegang pundaknya L tali beha giska dijepretin
Angiska_silalahi : sinting itu berdua, sakit otak ~X(

Mayalatuhari            : terus?

Angiska_silalahi : giska ngamuk =))
Angiska_silalahi : siram cowokku, tendang anunya si temennya cowokku.
Angiska_silalahi : Lucu deh mereka ngaduh-aduh. =))
Angiska_silalahi : Terus giska ambil duit cowok giska sama kunci motor Giska kabur
Angiska_silalahi : huahuahuahuahauha

Ferdian_83 : edan.
Ferdian_83 : Yang lain bakal teriak-teriak kamu malah nyolong motor sama duit -___-

Mayalatuhari : giska ngeriin. Lol.

Angiska_silalahi : apa gunanya belajar pertahanan diri dong kalo gag digunain -_-a
Angiska_silalahi : lagian sinting, job gag dijelasin gimana asal usulnya tau-tau disuruh buka baju
Angiska_silalahi : untung baru tali beha doang yang kena jepret bukan disuruh buka kolor segala

Mayalatuhari : tapi kok bisa sereem gitu sih, fotografer khusus motret aneh apa gimana ?

Angiska_silalahi : gag tahu tante K
Angiska_silalahi : harusnya sih bukan, kata cowokku dia terkenal kok
Angiska_silalahi : motret buat majalah apaaa gitu… beneran cukup terkenal K

Mayalatuhari : lapor polisi gis, takut kenapa-kenapa deh tante sama kamu
Mayalatuhari : kamu inget namanya siapa gis?

Angiska_silalahi : inget tan…
Angiska_silalahi : di kartu namanya… bentar…
Angiska_silalahi : namanya Hendrik Susanto

Mayalatuhari mengetik pesan….

……

Mayalatuhari : siapa gis?

Angiska Silalahi : Hendrik Susanto, tan. Kerjanya di majalah Horizon. Tante kenal?

Ferdian_83 sedang mengetik pesan….

….

Ferdian_83 : Loh? Namanya kok mirip nama suamimu, May?
_______________________________
Jakarta, 17 Juli 2011
03:55 AM
Iya absurd, gue paham.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Malaikat yang Menyamar - T.S. Arthur (1851)

Malaikat yang Menyamar atau An Angel in Disguise (1851) tampil dalam koleksi cerita T.S. Arthur yang berjudul After a Shadow and Other Stories .  "Manisnya anak yang sakit itu, yang selalu memandangnya dalam cinta, kesabaran, dan rasa syukur seperti madu bagi jiwanya, dan dia menggendongnya dalam hatinya juga dalam pelukannya, sebuah beban yang berharga." Hmayak Artsatpanyan, Sick Child, 1900 Kemalasan, sifat buruk, dan konsumsi alkohol berlebih telah melakukan tugas mengerikan, dan Si Ibu yang mati itu terbujur kaku di tengah anak-anaknya yang malang. Wanita itu jatuh di ambang pintu rumahnya dalam keadaan mabuk, dan meninggal di tengah keberadaan anak-anaknya yang masih kecil serta ketakutan. Kematian menyentuh rasa kemanusian paling mendasar. Wanita ini telah dihina, diolok, dan dikecam oleh hampir setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di desa tersebut; tapi sekarang, bersamaan dengan kabar kematiannya yang disebarkan dari mulut ke mulut dengan nada mura...

Tentang Anu

Nganuannya saya sederhana, sebenarnya.  Kalau nganu sama si anu harus bisa anu yang pelan-pelan. Pendekatan anunya juga harus luar biasa sabarnya, kayak anu-anuan yang ditahan. Tapi kalau begitu jadinya gampang banget, ya gak sih? Anu sama si anu harus anu yang pelan-pelan; keanuaan yang terjadinya lama dan pelan-pelan pastilah nganu sampe langgeng; sayangnya bukan cuma itu aturannya. Ada ratusan aturan peranuan yang harus ditepati dengan konsekuensi berikut ketika aturan-aturan anu itu tidak dianukan; “Tidak melakukan aturan anu yang benar, maka anuan selanjutnya pasti kacau. Tidak memasukan anu pada anu yang tepat, bisa bikin kepala dipenuhi keanuanuan yang bikin anu makin besar. Salah membaca anu malah melakukan anu, luar biasa bodohnya.” Nganu? Ya, anu bangetlah.  Tapi yang nganu-nganu itu, juga peraturan-peraturannya bisa menganukan hidup jadi tenang. Mata jadi anu, hidung jadi anu. Telinga juga dengarnya yang anu-anu saja. Hati terbebas dari anu bahkan jiwa m...