Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Ada di Instagram: Jalan Hidup Bajingan

Bicara dosa, dulu aku sangat ketakutan mendengar kata itu. Guru agamaku bilang kalau aku dan teman-temanku, walau hidup kami baik sampai saat itu dengan selalu bilang 'tolong', 'terima kasih', dan 'maaf' saat berbuat salah, tak bisa lepas dari dosa. Selepas membahas dosa di kelas, aku merasa tidak nyaman selama hampir seminggu. Rasanya bersalah sekali sampai-sampai menghirup udara saja jadi berat. Aku takut dosa-dosaku kelak akan membuatku dihukum langsung, seperti kena sambar petir di siang bolong atau tiba-tiba saat mengeluarkan tangan dari jendela mobil, tanganku akan putus lalu nyangkut di tiang yang baru dilewati. Kalau sekarang, aku belum memutuskan apa yang kurasakan saat memikirkan mengenai dosa. Tak mau memikirkan itu sih, lebih tepatnya.  Walau tidak mau memikirkan masalah dosa, di waktu-waktu tertentu, rasa bersalah seringkali datang dan menonjok ulu hatiku. Pada saat-saat seperti itu, ingatanku kembali ke masa kecilku. Papiku me...

Yang Fana adalah Kamu

Yang fana adalah kamu. Selebihnya, matilah aku: memungut semua hal yang kamu bilang tak ada gunanya, merangkainya sedemikian rupa sampai pada suatu pagi aku lupa untuk siapa, atau apa, atau mengapa “Tapi, yang fana adalah kamu, bukan?” tanyamu. Sedari awal aku tak pernah ada di mana-mana. 2 Februari 2019 ____________________________________________ Sebuah study membuat puisi pastiche berawal dari perasaanku yang selalu janggal memikirkan "Yang Fana Adalah Waktu" oleh Sapardi Djoko Damono, dimuat di Perahu Kertas, Kumpulan Sajak, 1982 .

Ada di Instagram: Ruang Tamu Menonton Tv

Sempat ada yang berujar kalau ia tidak terikat sesuatu apapun. Tapi bagaimana dengan yang lain? Aku percaya rumahnya senantiasa memiliki dia meski dia tidak selalu merasa memiliki sebuah rumah. Begitulah watak rumah. Begitupun wataknya. Cara baca #AdaDiInstagram : dari lokasi gambar ke bawah. View this post on Instagram A post shared by Maria Linda Raharja (@lindaraharja) on Feb 1, 2019 at 1:01am PST < Cek potongan #AdaDiInstagram lainnya di sini

Ada di Instagram: Perempatan Hati Kamu

Ada banyak tempat bernama unik di daftar lokasi Instagram. Selain menyentil rasa geli, tempat-tempat ini seperti mengundang siapa saja yang mengetahui keberadaan mereka untuk menjelajah. Saya membayangkan tempat-tempat aneh ini layaknya dunia lain yang butuh dikenal jalannya, topografinya, sejarahnya. Maka dari itu, anggap saja ini merupakan catatan perjalanan saya hinggap di tempat-tempat tersebut. Sepenuhnya ini adalah rekaan dan usaha bersenang-senang. Insta poetry but make it on the road 😂😂 Cara baca  #AdaDiInstagram : dari lokasi gambar ke bawah. View this post on Instagram A post shared by Maria Linda Raharja (@lindaraharja) on Jan 12, 2019 at 10:14am PST < Cek potongan #AdaDiInstagram lainnya di sini

Tiket Bahagia

Di hari kesembilan usai berdoa novena, angin gunung mengetuk jendela rumah dan bercerita, "Kudengar belakangan ini menyerahkan harapan pada ketiadaan adalah sebenar-benarnya kebahagiaan." Mendengar kabar itu, kamu membayangkan di tempat kebahagiaan menunggu pada akhirnya kamu bisa bertemu dengan ayah dan ibu. Maka dengan persiapan seadanya kamu mengepak barang-barang. Kamu membeli tiket kereta kelas pertama yang akan mengantarkanmu menyusuri jalanan panjang menuju pulang. "Ayah dan ibu, aku sudah tiba. Kota telah padam dan tenggelam dalam bayang-bayang yang mencangkul dirinya sendiri, menggulung tikarnya sendiri membiarkan lukanya abadi." Di kota itu suaramu pecah berkeping-keping menyebar ke delapan penjuru menjelma bising yang sejenak riuh sejenak redam sejenak kemudian, diam . Gaung terakhir yang kamu dengar serupa kehilangan di malam-malam penuh kegelisahan. Tidak ada ayah, tidak ada ibu. Kapan kamu sadar? Bukannya keti...

semua dikutuk menunggu

Di puncak musim pengujan, kamu berjalan menyusuri rel kereta menuju tanah basah, tanah perjanjian. Bekalmu tak seberapa. Hanya sebeka duka, setengah syikal lara, empat gera kebahagiaan, dan tujuh talenta rindu yang memberatkan. Perjalananmu jauh dan melelahkan tapi kamu tak kunjung sampai bahkan setelah kamu pikir semuanya rampung kamu ikat, erat dan erat. TIdak ada yang bisa kulakukan selain memanjatkan doa atau mantra mantra atau doa yang banjir menggenang sampai setinggi lutut. Sebab kamu, aku, atau bahkan narator sekalipun tak bisa berkutik di hadapan dua loh batu itu: Kita dikutuk untuk menunggu.  Semua juga tahu!

perihal jarak

ibu bilang, kau jadi jauh lebih diam setelah lelaki itu. setelah kamu. setelah kamu membawa segala yang berharga demi meraga di dunia buatanmu sendiri. belakangan yang bisa kutulis hanyalah perihal jarak dan tangan-tanganmu dan suara-suara bising dalam kepalaku. dan aku harus mengingatkan diriku sendiri kalau kita bisa saja saling mencintai satu sama lain, tapi kita memilih hal yang sebaliknya, supaya aku bisa menulis mengenai sesuatu yang lain. tapi kamu masih berada di satu semesta jauhnya dan hal yang bisa kupikirkan cuma rinduku padamu besarnya jauh melampaui jarak ini. lantas sekarang aku mengirimimu sebuah pesan kembali, aku menulis satu lagi puisi mengenai jarak. aku pikir mungkin kamu mau membacanya.  | nurul ak - 22 November 2018

seketika pencipta

Marilah kita bayangkan hari di mana para pencipta keluar dari gua, membawa ide dan kepercayaan diri untuk dapat menguasai dunia. Dan seperti para penonton film lawas di sebuah bioskop tua, kita mulai melihat dunia baru dipaparkan lewat narasi berbentuk suara, kata, gambar, dan sebagainya: para musisi berhasil menggambarkan rasa ham barbekyu lewat alunan nada para pelukis mampu menyusun ulang kisah-kisah yang tersembunyi: mulai dari kisah kelahiran sampai kematian,  kisah penuh luka dan penyembuhan cerita mengenai yang terus bertumbuh dan yang terus menjalar dari perjumpaan pertama hingga perpisahan terakhir. para pencerita, pesolek, dan perekam gambar pun tak ketinggalan masing-masing dari mereka berhasil menuturkan nilai-nilai baik nilai-nilai yang telah lama dilupakan terkubur jauh di ingatan peradaban yang lalu. Mustahil menjumpai hari yang membosankan. Setiap hari ialah waktu penjelajahan baru di area gagasan yang maha luas. Setiap hari i...

Perahu

"Bagaimana kamu bisa membunuh dirimu sendiri tanpa benar-benar sekarat?" tanyamu di hari itu. Sayang, pertanyaanmu menggantung di udara mengunci bibirku rapat dan rapat sebab kamu tidak sepenuhnya  menginginkan jawaban yang tepat. Tapi suara sayup dalam kepala menjawab kalau itu mudah saja.  Perihal membunuh diri sendiri tanpa benar-benar sekarat seumpama sebuah perahu yang sengaja tak dibuat pas untuk berdua serupa  cinta yang angkuh  dan menolak pasrah serupa cinta seperti  kita .  9 November 2018

Stasiun Kereta

Tubuh perempuan itu senantiasa serupa stasiun kereta. Di jam-jam sibuk, orang-orang singgah. merokok atau menjajakan barang dagangan, merebahkan tubuh di gunungan kembar miliknya; melempar pandangan  rindu ke titik lenyap  di antara dahinya. Di jam-jam penuh peluh, tepatnya sembilan lewat sepuluh, mereka beranjak pulang. Sebagian diangkut kereta terakhir yang baru sampai. Yang lain melipir ke pinggir ranjang sambil menyimpan harap di waktu yang lain bisa mengunjungi sesekali. Malam hari ketika semua mendadak senyap tubuh perempuan itu beringsut di pembaringan. Takut dan nyeri berlabuh memutuskan untuk tinggal lebih lama. Mungkin untuk sementara Mungkin untuk seterusnya: Tubuh perempuan itu senantiasa serupa stasiun kereta yang tak kunjung surut pengunjungnya.  10 Oktober 2018 

Neraca Ibu

Sementara ingatan meradang, ibuku tak putus menimbang-nimbang ketakutannya terhadap ketidakpastian. Esok hari periuk sudah pasti tanpa isi. Tanpa berpamitan, ayah pergi: mencari petualangan di ibukota mencari nasi, membangun angan-angannya sendiri mendidihkan darah mudanya kembali. Tanggal tiga puluh waktunya tutup buku. Meski tak pernah menyerah, neraca laba rindu ibu masih juga berat sebelah. 3 Oktober 2018