Langsung ke konten utama

seketika pencipta



Marilah kita bayangkan hari di mana
para pencipta keluar dari gua,
membawa ide dan kepercayaan diri
untuk dapat menguasai dunia.

Dan seperti para penonton film lawas
di sebuah bioskop tua, kita mulai melihat
dunia baru dipaparkan lewat narasi
berbentuk suara, kata, gambar, dan sebagainya:

para musisi
berhasil menggambarkan
rasa ham barbekyu lewat alunan nada

para pelukis mampu menyusun ulang
kisah-kisah yang tersembunyi:
mulai dari kisah kelahiran sampai kematian, 
kisah penuh luka dan penyembuhan
cerita mengenai yang terus bertumbuh
dan yang terus menjalar
dari perjumpaan pertama hingga perpisahan terakhir.

para pencerita, pesolek, dan perekam gambar pun tak ketinggalan
masing-masing dari mereka berhasil menuturkan nilai-nilai baik
nilai-nilai yang telah lama dilupakan
terkubur jauh di ingatan peradaban yang lalu.

Mustahil menjumpai hari yang membosankan.

Setiap hari ialah waktu penjelajahan baru di
area gagasan yang maha luas.
Setiap hari ialah sebuah proses mendaur
beragam materi dan imajinasi
membongkarnya, 
menambahnya, 
mengubah bentuknya
menjadi sesuatu yang tak kamu sangka.

Melelahkan tapi memuaskan.

Meski demikian kita sama-sama tahu,
tidak ada jaminan pasti
jika hidup akan
jauh lebih mudah.

Biar dunia dikuasai para pencipta,
sakit hati, rasa kehilangan, putus asa, perih dan luka
juga semua perasaan-perasaan berlebihan itu
selalu berhasil mencari tempat berdiam diri.

Tapi kurasa semuanya akan jauh lebih tertahankan.

Di tempat para pencipta berdiri dan
menggantung sandal,
kelak pada masa mereka memeluk dunia;
segala mimpi akhirnya tergenapi.

19 November 2019
___________________________________

@GetCraft_ID mengadakan kompetisi kreatif untuk menjawab pertanyaan ‘Apa jadinya dunia ketika kreator menguasai dunia?’ Bantu saya memenangkan 100 juta rupiah dengan cara memberi likes, komentar, atau share karya saya ke teman-teman lainnya! bit.ly/idcreatorsruletheworld #GetCraft #WhenCreatorsRuleTheWorld #puisi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Malaikat yang Menyamar - T.S. Arthur (1851)

Malaikat yang Menyamar atau An Angel in Disguise (1851) tampil dalam koleksi cerita T.S. Arthur yang berjudul After a Shadow and Other Stories .  "Manisnya anak yang sakit itu, yang selalu memandangnya dalam cinta, kesabaran, dan rasa syukur seperti madu bagi jiwanya, dan dia menggendongnya dalam hatinya juga dalam pelukannya, sebuah beban yang berharga." Hmayak Artsatpanyan, Sick Child, 1900 Kemalasan, sifat buruk, dan konsumsi alkohol berlebih telah melakukan tugas mengerikan, dan Si Ibu yang mati itu terbujur kaku di tengah anak-anaknya yang malang. Wanita itu jatuh di ambang pintu rumahnya dalam keadaan mabuk, dan meninggal di tengah keberadaan anak-anaknya yang masih kecil serta ketakutan. Kematian menyentuh rasa kemanusian paling mendasar. Wanita ini telah dihina, diolok, dan dikecam oleh hampir setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di desa tersebut; tapi sekarang, bersamaan dengan kabar kematiannya yang disebarkan dari mulut ke mulut dengan nada mura...

Tentang Anu

Nganuannya saya sederhana, sebenarnya.  Kalau nganu sama si anu harus bisa anu yang pelan-pelan. Pendekatan anunya juga harus luar biasa sabarnya, kayak anu-anuan yang ditahan. Tapi kalau begitu jadinya gampang banget, ya gak sih? Anu sama si anu harus anu yang pelan-pelan; keanuaan yang terjadinya lama dan pelan-pelan pastilah nganu sampe langgeng; sayangnya bukan cuma itu aturannya. Ada ratusan aturan peranuan yang harus ditepati dengan konsekuensi berikut ketika aturan-aturan anu itu tidak dianukan; “Tidak melakukan aturan anu yang benar, maka anuan selanjutnya pasti kacau. Tidak memasukan anu pada anu yang tepat, bisa bikin kepala dipenuhi keanuanuan yang bikin anu makin besar. Salah membaca anu malah melakukan anu, luar biasa bodohnya.” Nganu? Ya, anu bangetlah.  Tapi yang nganu-nganu itu, juga peraturan-peraturannya bisa menganukan hidup jadi tenang. Mata jadi anu, hidung jadi anu. Telinga juga dengarnya yang anu-anu saja. Hati terbebas dari anu bahkan jiwa m...