Tubuh perempuan itu
senantiasa serupa
stasiun kereta.
Di jam-jam sibuk, orang-orang singgah.
merokok atau menjajakan
barang dagangan,
merebahkan tubuh
di gunungan kembar miliknya;
melempar pandangan
rindu ke titik lenyap
di antara dahinya.
Di jam-jam penuh peluh,
tepatnya sembilan lewat sepuluh,
mereka beranjak pulang.
Sebagian diangkut kereta terakhir
yang baru sampai.
Yang lain melipir ke pinggir ranjang sambil menyimpan harap
di waktu yang lain bisa mengunjungi sesekali.
Malam hari ketika semua mendadak senyap
tubuh perempuan itu beringsut di pembaringan.
Takut dan nyeri berlabuh
memutuskan untuk tinggal lebih lama.
Mungkin untuk sementara
Mungkin untuk seterusnya:
Tubuh perempuan itu
senantiasa serupa stasiun kereta
yang tak kunjung surut
pengunjungnya.
10 Oktober 2018

Komentar
Posting Komentar