Di puncak musim pengujan,
kamu berjalan menyusuri rel kereta
menuju tanah basah,
tanah perjanjian.
Bekalmu tak seberapa.
Hanya sebeka duka,
setengah syikal lara,
empat gera kebahagiaan,
dan tujuh talenta rindu yang memberatkan.
Perjalananmu jauh dan melelahkan
tapi kamu tak kunjung sampai
bahkan setelah kamu pikir semuanya rampung
kamu ikat, erat dan erat.
TIdak ada yang bisa kulakukan
selain memanjatkan doa atau mantra
mantra atau doa yang banjir
menggenang sampai setinggi lutut.
Sebab kamu, aku, atau bahkan narator sekalipun
tak bisa berkutik di hadapan
dua loh batu itu:
Kita dikutuk untuk menunggu.
Semua juga tahu!

Komentar
Posting Komentar