Sementara ingatan meradang,
ibuku tak putus menimbang-nimbang
ketakutannya terhadap
ketidakpastian.
Esok hari periuk
sudah pasti
tanpa isi.
Tanpa berpamitan, ayah pergi:
mencari petualangan di ibukota
mencari nasi,
membangun angan-angannya sendiri
mendidihkan darah mudanya kembali.
Tanggal tiga puluh
waktunya tutup buku.
Meski tak pernah menyerah,
neraca laba rindu ibu
masih juga berat sebelah.
3 Oktober 2018

Komentar
Posting Komentar