Di hari kesembilan usai berdoa novena,
angin gunung mengetuk jendela
rumah dan bercerita,
"Kudengar belakangan ini
menyerahkan harapan pada ketiadaan
adalah sebenar-benarnya kebahagiaan."
Mendengar kabar itu,
kamu membayangkan di tempat kebahagiaan menunggu
pada akhirnya kamu bisa bertemu
dengan ayah dan ibu.
Maka dengan persiapan seadanya kamu
mengepak barang-barang.
Kamu membeli tiket kereta kelas pertama yang akan
mengantarkanmu menyusuri jalanan panjang menuju pulang.
"Ayah dan ibu, aku sudah tiba.
Kota telah padam dan tenggelam
dalam bayang-bayang yang
mencangkul dirinya sendiri,
menggulung tikarnya sendiri
membiarkan lukanya abadi."
Di kota itu suaramu pecah berkeping-keping
menyebar ke delapan penjuru
menjelma bising yang sejenak riuh
sejenak redam sejenak kemudian, diam.
Gaung terakhir yang kamu dengar
serupa kehilangan
di malam-malam penuh
kegelisahan.
Tidak ada ayah,
tidak ada ibu.
Kapan kamu sadar?
Bukannya ketiadaan telah
lama menyertaimu?
_____________________
29 Desember 2018 : Teruntuk angin gunung.

Komentar
Posting Komentar