Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Saya, Cinta Kesempurnaan

Saya, jatuh cinta pada kesempurnaan. Dan kecintaan saya padanya bukan sembarang cinta-cintaan seperti yang belakangan begitu seriusnya dikonsumsi pasar. Kesempurnaan yang saya cintai ini masif pasif. Ia adalah observan yang senantiasa ada di pojokan ruangan: matanya menatap sekeliling dengan awas, tenggelam dalam epigram-epigram bisunya. Kata-katanya, orang bilang, jahat sekali. Kata-katanya, bukan sekali menjatuhkan orang tinggi martabat yang mengaku-ngaku sebagai golongan terpelajar negri. Lantas kecurigaannya, harus saya bilang, adalah yang paling mematikan; karena olehnya ia mendapatkan banyak musuh, juga banyak kesenangan busuk. Ia pernah sekali berkata kepada saya bahwa hidupnya adalah perputaran merry-go-round yang lucu. Tadinya ia adalah seorang yang sederhana; kemauannya hanya menemukan kebaikan di setiap diri orang yang dijumpai. Sayang, orang banyak mengatainya picik. Jadi ia berhenti untuk menjadi sederhana, menjadi licik. Ia mudah membedakan mana yang baik, mana yang j...

Sudahkah Anda Beranjak Hari ini?

Saya belum. Sekiranya kemarin itu adalah waktu yang bakal saya sangkal sampai mati-matian. Kehilangan beberapa paruh dari diri sendiri, berharap dunia yang saya tinggali cuma semudah menyusun kalimat-kalimat acak supaya menjadi kesatuan cerita dongeng indah, saya cuma bisa bilang semuanya menempuh hal yang sama. Dan yah, saya masih berada di tempat yang sama, dihibur lini dan lana yang menggagap dari dalam diri. Ada pengemis dalam diri saya yang usahanya tidak lebih dari bergabung dengan para pesakitan, ia tertawa-tawa dengan teman-teman saya hari ini---dengan harapan saya bisa juga terhibur dengan humor tersebut. Tapi kalau boleh jujur, rasa takutnya masih sama besarnya dengan hari kemarin. Mungkin lebih. Entahlah. Saya mendapati horor paling mengerikan. Diantara tumpukan buku-buku yang saya puja, ia tergeletak di sana menuturkan kisah bodoh. Saya berusaha untuk menertawakannya karena sejujurnya saya kenal betul dengan sosok-sosok itu. Saya merasa familiar dengan posisi nona pange...

Mengunjungi Rumah Teman Lama

Beberapa jam sebelum ini saya mengunjungi rumah teman lama. Megah, sepi, sebagaimana biasanya rumah itu selalu berdiri. Letaknya di belakang sekolah saya, punya bangku berderet panjang coklat-coklat, punya meja perjamuan putih dan atap yang tinggi mengerucut. Dan seperti kebanyakan momen canggung lainnya waktu saya tiba-tiba berkunjung ke rumah teman lama lain, saya sempat tertegun di ambang pintu. Apa yang harus saya lakukan? Saya pikir. Iya ambil air, iya menyalami tuan rumah, iya mengambil tempat duduk. Tapi di mana? Di mana tepatnya saya harus duduk? Tempat mana yang pas diantara sekian puluh deretan kursi panjang berbantal coklat itu? Sampai beberapa lama saya mematung, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tempat paling belakang. Dan saya berbincang. Dan saya memang tolol paling biadab, punya bakat terpendam untuk merusak hubungan. Dan saya terperangah karena saya sadar, saya rindu sekali dengan teman saya itu. Jauh dari kontemplasi tiga bulanaan yang mem...

Yang Tak Terkatakan

Yeah, ini naskah pertama yang bener-bener jadi gue bikin. Dan yeah, ini jadi surat kangen pertama gue. Ehey enjoy.  (FADE IN) ADIT :   (DUDUK DI BANGKU SAMBIL SIBUK DENGAN PONSELNYA)             (MAYA MASUK DAN MELIHAT ADIT ) MAYA : (DUDUK DI BANGKU SEBELAH ADIT)             Hey. ADIT : (TAK ACUH) Hey. MAYA : Sibuk banget. ADIT : Hmm.  MAYA : Sms siapa?  ADIT : (DIAM LAMA) Teman. MAYA : Oh…  (KEDUANYA TERDIAM CUKUP LAMA) (SILVI MUNCUL SETENGAH BERLARI LANGSUNG KE SEBELAH ADIT) SILVI : Adiiiitttt. Adiiiiit. Adiiiittt!!!! Halo Adit! ADIT : Halo.  SILVI : Gak ngampus nih?? ADIT : Ngampus. Tapi tadi dosennya gak masuk.  SILVI : ( MEMEKIK)            Kalau begitu nonton yuuukk! ADIT : (MENOLEH KE MAYA) SILVI : ( IKUT MENOLEH)             Eh, ada Maya. Kamu mau ikutan enggak?  M...

ABU

KALAU dengan mencintaimu seumur hidup sudah sama berartinya dengan mati, maka ia memang tidak lebih dari seonggok daging tak bernyawa. Kelabu. Diam pada tepian sungai hitam yang menjorok ke dunia berfragmen ambigu tempat Hades melebarkan jaring kekuasaannya. Persis seperti yang mereka bilang. Kau tahu, mereka yang mengenalnya lama sebelum ia mengenalmu memutuskan dakwaan bahwa jiwanya telah dibawa setan. Ditancapkan ekor jiwanya pada tembok dunia bawah dengan paku berkarat. Dan dengan keadaan demikian, jiwanya terus menghabiskan waktu dengan melolong tiada henti, bergoyang-goyang lemas sembari menggapai cahaya samar-samar jauh di perbatasan jarak pandang. Mereka bilang begitulah akibatnya ketika ia hidup terlalu lama di masa lalu. Ia, hidup di masa lalu. Ia, yang kata mereka terlelap pada buaian hamparan bunga opium, juga dipercaya membasuh kepalaku dengan air dari Sungai Lethe, hidup di masa lalu. Nah.  Nah , apa kau bisa melihat di mana lucunya ini semua? Ya, mereka ...

Merentang Mimpi

Di sela-sela jemari tangannya ada jemari tangan pria itu. Menggenggam. Erat. Hampir tak terpisahkan. Maka berjuta pasang mata sudah menetapkan bahwa mereka adalah Adam dan Eva. Sudah tak bisa lagi dipisahkan. Tidak bisa. *** TIDAK pernah benar-benar ada perubahan yang tampak dari dirinya. Perempuan itu masih tetap memiliki rambut paling menawan, lemas tergerai pada pundaknya yang ringkih. Matanya masih tetap berwarna coklat hangat, pancarannya kuat. Dan ya, lelaki itu bahkan masih bisa mengecap manisnya bibir merah mudanya yang ranum seperti mangga, hampir sama seperti si perempuan sendiri yang terus merasakan jantungnya berdebar makin cepat waktu mata mereka bersirobok. Tapi bahkan tanpa tanda yang jelas firasatnya mengatakan mereka sudah berbeda. Sudah bukan Adam dan Eva. Bukannya ia tidak pernah menyangka akan sampai pada titik ini, tentu. Lelaki itu cuma merentang kenangan lebih jauh lagi saja. Ia seperti mereka yang pergi berperang dengan berpegang teguh memba...

Perempuan yang Menunggu

DI POJOKAN sana, ia mengulas kenangan. Ini bukan waktunya yang pertama di sana. Bukan pula waktunya yang terakhir. Kemarin, kemarin dulu, dua hari yang lalu, atau mungkin besok, setiap harinya ia selalu kembali ke sini. Ia bertekad. Takdir, katanya akan bertekuk lutut pada kegigihan. Maka ia, gadis itu, menggantungkan harap dan percaya pada puncak tiang tertinggi buatan tangan manusia. Ia menunggu. Anonim yang menunggu. Berbekal selimut parka di penghujung musim gugur yang menggigit dan jaket kulit kecoklatan, segenggam rosario sewarna rubi, serta litani mahakudusnya sendiri. Namanya, namanya, namanya. Acuhkan tiap mata yang memandang dengan pandangan simpati, acuhkan mereka yang menertawai. Maaf saja, ia tidak akan menyerah. Pada siapapun itu. Pada olokan, polisi yang berlalu lalang, pada harapan. Tapi bukankah harusnya ia sudah berhenti menunggu? Berapa lama waktu yang lewat? Setahun? Dua tahun? Tiga puluh tahun? Tidak pernah ada bedanya. Ia suka menunggu. Ia...