Saya, jatuh cinta pada kesempurnaan. Dan kecintaan saya padanya bukan sembarang cinta-cintaan seperti yang belakangan begitu seriusnya dikonsumsi pasar. Kesempurnaan yang saya cintai ini masif pasif. Ia adalah observan yang senantiasa ada di pojokan ruangan: matanya menatap sekeliling dengan awas, tenggelam dalam epigram-epigram bisunya. Kata-katanya, orang bilang, jahat sekali. Kata-katanya, bukan sekali menjatuhkan orang tinggi martabat yang mengaku-ngaku sebagai golongan terpelajar negri. Lantas kecurigaannya, harus saya bilang, adalah yang paling mematikan; karena olehnya ia mendapatkan banyak musuh, juga banyak kesenangan busuk. Ia pernah sekali berkata kepada saya bahwa hidupnya adalah perputaran merry-go-round yang lucu. Tadinya ia adalah seorang yang sederhana; kemauannya hanya menemukan kebaikan di setiap diri orang yang dijumpai. Sayang, orang banyak mengatainya picik. Jadi ia berhenti untuk menjadi sederhana, menjadi licik. Ia mudah membedakan mana yang baik, mana yang j...
stories, words, and everything worth to be told