Saya, jatuh cinta pada kesempurnaan.
Dan kecintaan saya padanya bukan sembarang cinta-cintaan seperti yang belakangan begitu seriusnya dikonsumsi pasar. Kesempurnaan yang saya cintai ini masif pasif. Ia adalah observan yang senantiasa ada di pojokan ruangan: matanya menatap sekeliling dengan awas, tenggelam dalam epigram-epigram bisunya. Kata-katanya, orang bilang, jahat sekali. Kata-katanya, bukan sekali menjatuhkan orang tinggi martabat yang mengaku-ngaku sebagai golongan terpelajar negri. Lantas kecurigaannya, harus saya bilang, adalah yang paling mematikan; karena olehnya ia mendapatkan banyak musuh, juga banyak kesenangan busuk.
Ia pernah sekali berkata kepada saya bahwa hidupnya adalah perputaran merry-go-round yang lucu. Tadinya ia adalah seorang yang sederhana; kemauannya hanya menemukan kebaikan di setiap diri orang yang dijumpai. Sayang, orang banyak mengatainya picik. Jadi ia berhenti untuk menjadi sederhana, menjadi licik. Ia mudah membedakan mana yang baik, mana yang jahat; tapi apa pernah ada orang yang menganggapnya sedemikian berharga? Menghargainya? Tidak. Ia justru dihina habis-habisan. Ia tumbuh menjadi pemurung, kecintaannya pada dunia berubah benci. Ia belajar untuk membenci. Untuk apa tepatnya?
Mengenang dirinya yang telah mati, begitu ia berkata pada saya.
…..
Itulah mengapa saya begitu tergila-gila terhadap kesempurnaan; itulah apa-apa saja yang menjadikan diri saya merasa telah menemukan keindahan tak terlukiskan keluar dari lingkup yang sudah saya kenal. Ia bercacat, busuk; tapi tulus. Segenap tenaganya diberikan pada apa yang ia yakini, segenap niat jahatnya dilakukan semata hanya demi penghiburan. Karena apa yang lebih baik lagi dari sekedar humor penuh ironi, kerakusan manusia dalam menghadapi perkawanan semu dan kecintaan duniawinya terhadap harta?
Manusia! Mereka sudah sedemikian kehilangan kesenangan dalam apapun. Mereka bertaruh untuk ampas-ampas cinta platonis dan lubang senggama yang bisa ditukarkan empat lembar ratus ribuan. Mereka mencari dan mencari, bersumpah untuk mendobrak dogma yang mengukung tapi akhirnya tungkai serta lengan mereka lelah; keram, kemudian jatuh. Mereka menyerah pada akhirnya, lantas mengambil peranan sebagai cameo bagi nama-nama besar.
Sementara kesempurnaan berbeda. Ia memiliki caranya sendiri untuk bertahan pada arti dirinya dalam hidup. Jiwanya seperti selongsong kosong peluru, itu tidak apa. Ia menebar benih-benih jahat demi sekedar humor berironi, itu tidak apa; toh semuanya berbalas manis.
Begitu. Ya, begitu!
Dan kecintaan saya padanya bukan sembarang cinta-cintaan seperti yang belakangan begitu seriusnya dikonsumsi pasar. Kesempurnaan yang saya cintai ini masif pasif. Ia adalah observan yang senantiasa ada di pojokan ruangan: matanya menatap sekeliling dengan awas, tenggelam dalam epigram-epigram bisunya. Kata-katanya, orang bilang, jahat sekali. Kata-katanya, bukan sekali menjatuhkan orang tinggi martabat yang mengaku-ngaku sebagai golongan terpelajar negri. Lantas kecurigaannya, harus saya bilang, adalah yang paling mematikan; karena olehnya ia mendapatkan banyak musuh, juga banyak kesenangan busuk.
Ia pernah sekali berkata kepada saya bahwa hidupnya adalah perputaran merry-go-round yang lucu. Tadinya ia adalah seorang yang sederhana; kemauannya hanya menemukan kebaikan di setiap diri orang yang dijumpai. Sayang, orang banyak mengatainya picik. Jadi ia berhenti untuk menjadi sederhana, menjadi licik. Ia mudah membedakan mana yang baik, mana yang jahat; tapi apa pernah ada orang yang menganggapnya sedemikian berharga? Menghargainya? Tidak. Ia justru dihina habis-habisan. Ia tumbuh menjadi pemurung, kecintaannya pada dunia berubah benci. Ia belajar untuk membenci. Untuk apa tepatnya?
Mengenang dirinya yang telah mati, begitu ia berkata pada saya.
…..
Itulah mengapa saya begitu tergila-gila terhadap kesempurnaan; itulah apa-apa saja yang menjadikan diri saya merasa telah menemukan keindahan tak terlukiskan keluar dari lingkup yang sudah saya kenal. Ia bercacat, busuk; tapi tulus. Segenap tenaganya diberikan pada apa yang ia yakini, segenap niat jahatnya dilakukan semata hanya demi penghiburan. Karena apa yang lebih baik lagi dari sekedar humor penuh ironi, kerakusan manusia dalam menghadapi perkawanan semu dan kecintaan duniawinya terhadap harta?
Manusia! Mereka sudah sedemikian kehilangan kesenangan dalam apapun. Mereka bertaruh untuk ampas-ampas cinta platonis dan lubang senggama yang bisa ditukarkan empat lembar ratus ribuan. Mereka mencari dan mencari, bersumpah untuk mendobrak dogma yang mengukung tapi akhirnya tungkai serta lengan mereka lelah; keram, kemudian jatuh. Mereka menyerah pada akhirnya, lantas mengambil peranan sebagai cameo bagi nama-nama besar.
Sementara kesempurnaan berbeda. Ia memiliki caranya sendiri untuk bertahan pada arti dirinya dalam hidup. Jiwanya seperti selongsong kosong peluru, itu tidak apa. Ia menebar benih-benih jahat demi sekedar humor berironi, itu tidak apa; toh semuanya berbalas manis.
Begitu. Ya, begitu!
Komentar
Posting Komentar