Saya belum. Sekiranya kemarin itu adalah waktu yang bakal saya sangkal sampai mati-matian. Kehilangan beberapa paruh dari diri sendiri, berharap dunia yang saya tinggali cuma semudah menyusun kalimat-kalimat acak supaya menjadi kesatuan cerita dongeng indah, saya cuma bisa bilang semuanya menempuh hal yang sama.
Dan yah, saya masih berada di tempat yang sama, dihibur lini dan lana yang menggagap dari dalam diri. Ada pengemis dalam diri saya yang usahanya tidak lebih dari bergabung dengan para pesakitan, ia tertawa-tawa dengan teman-teman saya hari ini---dengan harapan saya bisa juga terhibur dengan humor tersebut. Tapi kalau boleh jujur, rasa takutnya masih sama besarnya dengan hari kemarin. Mungkin lebih. Entahlah.
Saya mendapati horor paling mengerikan. Diantara tumpukan buku-buku yang saya puja, ia tergeletak di sana menuturkan kisah bodoh. Saya berusaha untuk menertawakannya karena sejujurnya saya kenal betul dengan sosok-sosok itu. Saya merasa familiar dengan posisi nona pangeran, saya merasa akrab dengan si serdadu pandir.. dan itu terasa seperti cara semesta menertawai saya.
Harusnya hari ini saya sudah beranjak dari tempat ini; sudah mengambil buku baru yang harusnya saya baca. Harusnya... tapi saya memilih tersandung untuk jatuh ke dalam lubang yang lebih menganga dalamnya.
Ada kenangan di sana; singkat, padat dan menderas.
Dan yah, saya masih berada di tempat yang sama, dihibur lini dan lana yang menggagap dari dalam diri. Ada pengemis dalam diri saya yang usahanya tidak lebih dari bergabung dengan para pesakitan, ia tertawa-tawa dengan teman-teman saya hari ini---dengan harapan saya bisa juga terhibur dengan humor tersebut. Tapi kalau boleh jujur, rasa takutnya masih sama besarnya dengan hari kemarin. Mungkin lebih. Entahlah.
Saya mendapati horor paling mengerikan. Diantara tumpukan buku-buku yang saya puja, ia tergeletak di sana menuturkan kisah bodoh. Saya berusaha untuk menertawakannya karena sejujurnya saya kenal betul dengan sosok-sosok itu. Saya merasa familiar dengan posisi nona pangeran, saya merasa akrab dengan si serdadu pandir.. dan itu terasa seperti cara semesta menertawai saya.
Harusnya hari ini saya sudah beranjak dari tempat ini; sudah mengambil buku baru yang harusnya saya baca. Harusnya... tapi saya memilih tersandung untuk jatuh ke dalam lubang yang lebih menganga dalamnya.
Ada kenangan di sana; singkat, padat dan menderas.
Komentar
Posting Komentar