Beberapa jam sebelum ini saya mengunjungi rumah teman lama. Megah, sepi, sebagaimana biasanya rumah itu selalu berdiri. Letaknya di belakang sekolah saya, punya bangku berderet panjang coklat-coklat, punya meja perjamuan putih dan atap yang tinggi mengerucut. Dan seperti kebanyakan momen canggung lainnya waktu saya tiba-tiba berkunjung ke rumah teman lama lain, saya sempat tertegun di ambang pintu.
Apa yang harus saya lakukan? Saya pikir.
Iya ambil air, iya menyalami tuan rumah, iya mengambil tempat duduk. Tapi di mana? Di mana tepatnya saya harus duduk? Tempat mana yang pas diantara sekian puluh deretan kursi panjang berbantal coklat itu? Sampai beberapa lama saya mematung, sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tempat paling belakang.
Dan saya berbincang. Dan saya memang tolol paling biadab, punya bakat terpendam untuk merusak hubungan. Dan saya terperangah karena saya sadar, saya rindu sekali dengan teman saya itu.
Jauh dari kontemplasi tiga bulanaan yang membuat saya terombang-ambing diantara jenuh dan curiga. Jauh dari segala-galanya. And yeah... saya putuskan untuk berhenti di sini. Ucapkan terima kasih.
Toh saya harus berjalan. Berlari. Terbang, seperti kata teman saya itu.
Komentar
Posting Komentar