DI POJOKAN sana, ia mengulas kenangan. Ini bukan waktunya yang pertama di sana. Bukan pula waktunya yang terakhir. Kemarin, kemarin dulu, dua hari yang lalu, atau mungkin besok, setiap harinya ia selalu kembali ke sini. Ia bertekad. Takdir, katanya akan bertekuk lutut pada kegigihan. Maka ia, gadis itu, menggantungkan harap dan percaya pada puncak tiang tertinggi buatan tangan manusia.
Ia menunggu.
Anonim yang menunggu.
Berbekal selimut parka di penghujung musim gugur yang menggigit dan jaket kulit kecoklatan, segenggam rosario sewarna rubi, serta litani mahakudusnya sendiri. Namanya, namanya, namanya. Acuhkan tiap mata yang memandang dengan pandangan simpati, acuhkan mereka yang menertawai. Maaf saja, ia tidak akan menyerah. Pada siapapun itu. Pada olokan, polisi yang berlalu lalang, pada harapan.
Tapi bukankah harusnya ia sudah berhenti menunggu? Berapa lama waktu yang lewat? Setahun? Dua tahun? Tiga puluh tahun?
Tidak pernah ada bedanya.
Ia suka menunggu. Ia berharap dari menunggu. Tubuhnya mengkerut di bawah siraman cahaya remang lampu jalanan. Kadang kala perempuan itu terbatuk-batuk nyeri waktu sesuatu yang merongrong dalam dadanya menjadi tak tertahankan, dan yah... ia menangis. Setiap malamnya. Pada setiap doanya. Ia memohon supaya miliknya yang berharga segera dikembalikan. Karena ia percaya, takdir akan bertekuk lutut pada kegigihan.
Karena sebenarnya ia takut pada kenyataan yang meretas dibalik ilusi sempurna buatannya. Ia sebentar lagi mati, sebentar lagi sampai di titik nadir, di jemput saktratul maut. Sekarat. Perempuan keras hati itu sudah menjual segalanya yang membebani diri lantas menyingkir ke bagian tersepi pigura. Menunggu, menunggu, tanpa bisa bergerak dari tempatnya berdiam.
Karena sebenarnya ketika ia berhenti untuk menunggu semuanya jadi terlihat begitu mengerikan. Ia akan menyesali tahun-tahun yang berlalu, empat puluh sembilan kali empat puluh empat putaran litani pada rosarionya dan pelupuk air matanya yang mengering.
Dan sudah tahun ke berapakah ia berada di sini?
Ia merapatkan selimut parkanya pada tubuh, menggigit bibir sampai berdarah. Oh tak apa. Tak apa, begitu ia membatin. Segera pria itu akan datang menjemputnya dan akan membawanya ke tempat paling menyenangkan di dunia. Sisinya, menggenggam tangannya. Perempuan itu yakin. Karena ia percaya, takdir akan bertekuk lutut pada kegigihan.
Ya, ia percaya.
****
SENJA itu melarut, menghantarkan bayang-bayang malam. Jalanan sudah semakin sepi. Ada suara sirene mobil dari jauh dan gonggongan anjing. Tapi itupun berlalu begitu cepat. Dan ada lagi yang datang. Seseorang. Melangkah dengan tegap menuju sebuah jalan dengan lampu temaram kekuningan. Menemukan seorang perempuan yang terlelap, membawanya ke tempat di mana sebuah penantian kelak akan terhenti.
Berganti tenang.
Berganti mati.
Komentar
Posting Komentar