Langsung ke konten utama

ABU

KALAU dengan mencintaimu seumur hidup sudah sama berartinya dengan mati, maka ia memang tidak lebih dari seonggok daging tak bernyawa. Kelabu. Diam pada tepian sungai hitam yang menjorok ke dunia berfragmen ambigu tempat Hades melebarkan jaring kekuasaannya. Persis seperti yang mereka bilang.

Kau tahu, mereka yang mengenalnya lama sebelum ia mengenalmu memutuskan dakwaan bahwa jiwanya telah dibawa setan. Ditancapkan ekor jiwanya pada tembok dunia bawah dengan paku berkarat. Dan dengan keadaan demikian, jiwanya terus menghabiskan waktu dengan melolong tiada henti, bergoyang-goyang lemas sembari menggapai cahaya samar-samar jauh di perbatasan jarak pandang. Mereka bilang begitulah akibatnya ketika ia hidup terlalu lama di masa lalu.

Ia, hidup di masa lalu. Ia, yang kata mereka terlelap pada buaian hamparan bunga opium, juga dipercaya membasuh kepalaku dengan air dari Sungai Lethe, hidup di masa lalu. Nah. Nah, apa kau bisa melihat di mana lucunya ini semua?

Ya, mereka semua memang sudah gila, kau tahu. Karena bagaimanapun ia tetaplah berada di sana, duduk di dermaga tempat kalian pernah berkunjung dulu. Ia bisa merasakan aliran angin di sekitar tempatnya duduk, membaui amis air yang menggenang dalam skala besar di bawah jemari kakinya dan melihat pucuk pohon pinus di kejauhan yang tampak seperti jenggot di bawah kaki gunung. Membawa sebuah kamera, mencoba mengabadikan sesuatu yang lebih daripada sekedar gambar. Sebuah memori, seperti yang selalu ia lakukan bersamamu dulu.

Ia, kau, dulu.

Sekarang sudah tidak lagi begitu.

Kalau semula ia punya kebiasaan melebarkan tangannya untuk menyambutmu waktu pulang, kini ia merapatkan dua tangan itu pada sisi-sisi tubuhnya. Ia lantas lebih banyak menghabiskan waktu dengan menggurat Fantasia Impromptu di udara. Tergugu di kisi jendela sembari menggesek senar biolanya, pun ia mencecar legato yang tersurat pada carik partitur 'Ave Maria' dengan gesekan tajam. Bukan sekali. Bukan dua kali. Dan tiba-tiba saja ia sudah berbeda, ia paham sardonis mengental yang mengambil rupa lima pertujuh sosok kekasihmu.

Awalnya kau memandangnya dengan tatapan tercenung, membiarkan. Toh kau masih percaya bahwa dinamika berarti penataan diri ke arah yang lebih baik. Bahwa apa yang diberi dan dihilangkan hak miliknya daripadamu adalah paling baik melebihi yang kau ingini. Tapi lama kelamaan semuanya jadi begitu memuakkan. Ia menjulang di atas dan kau di bawah. Ia berada pada sentral utama pusat gravitasi sementara kau mengawang di jarak paling jauh semesta. Pun dengan keadaannya, dengan segenap kepecayaanmu bahwa jejaknya yang lama masih bisa kau temukan pada perbuatannya yang paling kecil, demikian, ia tetap tidak bisa kembali menjadi seseorang dengan kebiasaan melebarkan tangannya untuk menyambutku waktu pulang.

Ia berubah.

Maka inilah yang kau lakukan; kau berusaha menghapus jarak yang sempat berdempetan begitu intim. Kau mengambil sekam dan membakarnya, dan menaruhnya pada botol kaca panas, dan melemparnya tepat pada rumahnya. Lalu kau berlalu dari hadapannya dengan napas tersengal, mencari tempat paling indah di bawah lindungan pohon poplar untuk mencerca dirimu sendiri. Sementara ia hanya termenung memandang punggungmu, membuang biolanya, meraup abu pembakaran rumah dan mencucukkan telunjuk tangannya dalam-dalam pada abu itu.

"Apa yang kau lakukan?" begitu seorang perempuan, yang rambutnya sehitam tinta pena, yang wajahnya berbintik-bintik coklat dan tembam, yang kebetulan lewat begitu saja di hadapannya dengan lilitan benang merah terburai pada kelingking tangan kanan, bertanya.

Ia tersentak, memandang jauh ke arah pohon poplar tempatmu bernaung kemudian kembali lagi ke perempuan di hadapannya. Rupa-rupanya ia memastikan apakah itu kau yang kembali lagi ke hadapannya sembari membawa lilitan benang merahmu menjuntai lemas, bergoyang di sisi kanan badan. Lantas wajahnya memancarkan sedih yang senada warna pekat jelaga.

Ia tersenyum.

"Membangun tembok istana," jawabnya.

Perempuan itu lantas mengerutkan keningnya. Lilitan benang merahnya makin berhamburan keluar. Tapi ia membalas tersenyum. "Apakah itu susah?"

"Susah."

"Lantas mengapa kau membuatnya dengan debu?"

Ia tidak menjawab, tidak pula menatap langsung ke arah perempuan itu. Alih-alih demikian, ia cuma mengambil segenggam abu yang lebih banyak daripada yang sudah-sudah. "Kau mau membantuku?"

"Dengan debu?"

"Ya."

"Oke."

Dan saat itulah ia memutuskan untuk mulai menggurat Fantasi Impromptu dengan sisa debu kehitaman, dengan bantuan dua telapak tangan kurus lain. Bukan lagi denganmu.

***
Tapi sebenarnya ia masih mengulum rasa empedu pada lidahnya. Nada-nada timpang mulai dilukiskannya sudah semenjak empat belas hari yang lalu dan ia mulai sering menyepi ke tempat itu, ke dermaga yang sama kenangan kalian berdua, sembari membawa kameranya dan dua buah permen nanas.

Pernah perempuan yang rambutnya sehitam tinta itu bertanya begini padanya, "Apa kau akan pergi ke ujung dunia dan tidak kembali?"

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Firasat."

Waktu itu ia menghela napas, menepuk puncak kepala si perempuan lalu tertawa dengan desibel rendah. "Jangan percaya intuisi tolol. Realitas lebih mampu diandalkan."

"Aku tahu."

"Lantas kenapa bertanya?"

"Memastikan firasat."

Dan ia cuma menggelengkan kepalanya sembari mengambil segenggam debu lain lantas melemparkannya sembarang di petakan tanah tanpa rumput. Deru anginnya kencang sementara ia membisikkan sepatah kata pada angin itu, tanpa terdengar oleh si perempuan. "Mungkin," katanya.

Mungkin, kau kenal perangai itu.

Maka waktu ia beranjak dari tempatnya mengulas Fantasi Impromptu baru dan terus berjalan makin lama makin menjauh, matamu mengikutinya. Kaki-kakimu menjejak menyambangi langkahnya yang meninggalkan perempuan itu, nyaris terjerembab jatuh. Ada rentang jarak yang luar biasa jauhnya antara kau dan dirinya, tapi itu kau anggap sebagai hal baik. Karena kau tidak ingin ia tahu bahwa kau mengikuti jejak langkahnya bahkan sampai ke dermaga itu.

Diam. Sendiri.

Diam. Menggerapai sunyi.

Ia merentang kenangan melebihi sebuah memori. Ingat bagaimana ia membelai rambutmu yang tertiup angin? Ingat bagaimana ia mengucapkan sejumlah kata-kata termanis, soal kau dan kunang-kunang? Ingat bagaimana ia bersenandung menenangkan, menggumamkan nada-nada abstrak yang membuatmu mendekap dua lututmu di dada? Ia mengulang semuanya secara runut satu per satu. Ya, satu per satu. Karena kesemuanya itu adalah tanda matanya untukmu. Bukti keberadaanmu.
Dan tahukah engkau betapa sebenarnya ia lelah menggurat tanda kres dengan abu kehitaman? Ia lelah mendengar serentetan kata-kata perempuan teman barunya yang mengingatkannya pada mimpi-mimpi semu, mimpi-mimpi asing, mimpi-mimpi di mana tidak pernah ada engkau di sana. Ia lelah mengharapkan pohon poplar itu tiba-tiba tumbang dan kau kembali di suatu waktu, menyunggingkan senyum dan tersenyum seperti dulu.

Karenanya ia memutuskan untuk pergi, menyambangi titik paling awal yang bisa direka ulang dalam kepalanya lagi. Cuma untuk membuatnya yakin satu hal; cintanya padamu belum berubah, tidak berubah, tidak akan berubah. Sementara kau yang melihatnya dari jauh cuma bisa tertegun dan menggigit bibir.

Ada air mata yang mengalir ke pipi, ada penyesalan menyesakkan menggantung berat di udara. Kau menutup dua matamu dengan telapak tangan, terpuruk. Menyesali ia yang sudah jauh membalikkan badan dan bersiap-siap pergi ke ujung dunia. Menyesali jalan yang tak pernah bisa kau tapaki kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Malaikat yang Menyamar - T.S. Arthur (1851)

Malaikat yang Menyamar atau An Angel in Disguise (1851) tampil dalam koleksi cerita T.S. Arthur yang berjudul After a Shadow and Other Stories .  "Manisnya anak yang sakit itu, yang selalu memandangnya dalam cinta, kesabaran, dan rasa syukur seperti madu bagi jiwanya, dan dia menggendongnya dalam hatinya juga dalam pelukannya, sebuah beban yang berharga." Hmayak Artsatpanyan, Sick Child, 1900 Kemalasan, sifat buruk, dan konsumsi alkohol berlebih telah melakukan tugas mengerikan, dan Si Ibu yang mati itu terbujur kaku di tengah anak-anaknya yang malang. Wanita itu jatuh di ambang pintu rumahnya dalam keadaan mabuk, dan meninggal di tengah keberadaan anak-anaknya yang masih kecil serta ketakutan. Kematian menyentuh rasa kemanusian paling mendasar. Wanita ini telah dihina, diolok, dan dikecam oleh hampir setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di desa tersebut; tapi sekarang, bersamaan dengan kabar kematiannya yang disebarkan dari mulut ke mulut dengan nada mura...

Tentang Anu

Nganuannya saya sederhana, sebenarnya.  Kalau nganu sama si anu harus bisa anu yang pelan-pelan. Pendekatan anunya juga harus luar biasa sabarnya, kayak anu-anuan yang ditahan. Tapi kalau begitu jadinya gampang banget, ya gak sih? Anu sama si anu harus anu yang pelan-pelan; keanuaan yang terjadinya lama dan pelan-pelan pastilah nganu sampe langgeng; sayangnya bukan cuma itu aturannya. Ada ratusan aturan peranuan yang harus ditepati dengan konsekuensi berikut ketika aturan-aturan anu itu tidak dianukan; “Tidak melakukan aturan anu yang benar, maka anuan selanjutnya pasti kacau. Tidak memasukan anu pada anu yang tepat, bisa bikin kepala dipenuhi keanuanuan yang bikin anu makin besar. Salah membaca anu malah melakukan anu, luar biasa bodohnya.” Nganu? Ya, anu bangetlah.  Tapi yang nganu-nganu itu, juga peraturan-peraturannya bisa menganukan hidup jadi tenang. Mata jadi anu, hidung jadi anu. Telinga juga dengarnya yang anu-anu saja. Hati terbebas dari anu bahkan jiwa m...