Langsung ke konten utama

Merentang Mimpi

Di sela-sela jemari tangannya ada jemari tangan pria itu. Menggenggam. Erat. Hampir tak terpisahkan. Maka berjuta pasang mata sudah menetapkan bahwa mereka adalah Adam dan Eva.
Sudah tak bisa lagi dipisahkan.
Tidak bisa.

***

TIDAK pernah benar-benar ada perubahan yang tampak dari dirinya. Perempuan itu masih tetap memiliki rambut paling menawan, lemas tergerai pada pundaknya yang ringkih. Matanya masih tetap berwarna coklat hangat, pancarannya kuat. Dan ya, lelaki itu bahkan masih bisa mengecap manisnya bibir merah mudanya yang ranum seperti mangga, hampir sama seperti si perempuan sendiri yang terus merasakan jantungnya berdebar makin cepat waktu mata mereka bersirobok. Tapi bahkan tanpa tanda yang jelas firasatnya mengatakan mereka sudah berbeda.

Sudah bukan Adam dan Eva.

Bukannya ia tidak pernah menyangka akan sampai pada titik ini, tentu. Lelaki itu cuma merentang kenangan lebih jauh lagi saja. Ia seperti mereka yang pergi berperang dengan berpegang teguh membawa senapan di dadanya erat-erat, yang kemudian kehilangan benda itu begitu saja dalam perjalanannya. Dulunya percaya bahwa memang itulah keberadaan mereka dulu. Dua belahan jiwa yang saling menemukan. Saat itu ia yakin, dan sebenarnya sampai sekarangpun keyakinan itu tidak pernah goyah; bahwa ia tidak akan bisa hidup tanpanya.
Tapi mengapa pada akhirnya ia sampai ke muara ini? Yang cuma menyisakan diam diantara mereka, tatap dingin, serta jurang tak kasat mata? Bukankah ia sudah mengambil semua kesempatan terbaik yang ditawarkan masa lalu waktu semesta menawarkannya? Ia tidak mengerti. Pikirannya tidak bisa berhenti, terus berdesing di balik tempurung kepalanya. 

"Jadi..." suaranya serak, memecah hening.

Perempuan itu bergeming. Entah apa yang ditunggunya dalam diam itu. Jemari lentiknya mengepal, gemetar. Pria itu hendak membagi kehangatan tangannya, tapi kemudian jemari lentik itu ditariknya menjauh, cepat. Senyum pria itu pecah.

"Sudah tidak bisa, ya?"

Kekasihnya menggelengkan kepala, lamat.

"Dan..."

"Dan..."

"Harus bagaimana lagi?"

Matanya yang coklat hangat melembut. "Berhenti berusaha."

***

Ia sendiri, ia termenung. Ada kenangan yang sekarang ini tengah berputar di benaknya. Segalanya masih terpeta dengan jelas tentu. Waktu-waktu yang menyenangkan, yang membeku menjadi adegan bisu pada fragmen hitam putih. Ada dirinya, ada perempuan itu, saling menertawakan diri mereka sendiri pada meja dekat jendela, dua meter jaraknya dari tempatnya terpekur pada ilusi kosong yang bermain.

Perempuannya sudah pergi sedari tadi, meninggalkan empat lebar uang dan cincinnya. Bodoh. Mestinya tadi ia jangan membiarkan perempuan itu pergi. Jangan memberinya kesempatan untuk hilang dari pandangannya tanpa kejengkelan yang akhirnya tak pernah membuatnya kembali.Yang akhirnya meninggalkannya sendiri bertanya-tanya. Kenapa? Sejak kapan? Kenapa?
Adakah yang salah dengan mereka? Sejak kapan yang mereka miliki bersama itu mati, mengering dan layu mati? Sejak kapan pilihan terberat dan terbaik yang mereka punya cuma berpisah?

Katanya, sebenarnya ia sudah tahu hal itu. Katanya, ia cuma menekan tombol reset dalam kepalanya semata. Katanya lagi, ia sudah lelah. Ada yang coba mereka ubah di masa lalu, tapi hal itu tetap sulit menjadi baik. Seperti mempertahankan buih pada bir kuning. Seperti mencoba memerciki bunga kering dengan air. Dan perempuan itu bukanlah perempuan yang sama gigihnya dengan ia sendiri.

Tapi kenapa, kenapa, kenapa yang lain tidak pernah bisa diam. Berdering terus menerus dalam kepalanya yang gamang dan tiba-tiba hilang semua kesenangannya. Mencari celah, mengutuki diri sendiri yang tidak melihat tanda. Yang terlena pada keadaan, yang merentang kenangan dan hidup didalamnya sementara sebenarnya semuanya sudah berhenti memanas.

Menjadi dingin, menjadi tidak bernyawa.

Menjadi sebuah penyesalan.

Menjadi alasan untuk terus memandang kembali ke tempatnya semula berada. Menghirup sisa keberadaannya di hidupnya. Memutuskan untuk bergeming.

Kenapa, kenapa, kenapa.

Dan ia tidak berhasil menemukan jawabannya.

***

"Harus bagaimana lagi?"

"Berhenti berusaha."

"Tapi--"

"Jadi teman saja, ya?"

"..."

"..."

".....ya."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Psalter of Undone Girls

Book I: Of Hunger Psalm I. The Starvation Game She starved at the table of touch. Every smile was rationed. She learned to chew absence, to swallow glances like crumbs. The hunger taught her that even neglect has calories. Psalm II. The Mouth as Wound The mouth opens for speech, but bleeds instead. Desire leaks, iron-tasting. A kiss is just a suture failing. What is voiced is not heard, what is heard is not held. Psalm III. Banquet of Absence We sit around a feast of plates. The cutlery gleams with nothing. We praise the spread of air, raise a toast to lack. Our bellies groan like choirs, our hollow becomes our hymn. Psalm IV. The Body as Empty House Her ribs are doorframes, her lungs the dusty halls. Every step echoes. She lies in bed with drafts for companions, the wallpaper peeling like memory. Hunger is not only of the stomach, but of the rooms no one enters. Psalm V. Communion of Ash They offered her bread that dissolved into soot. They poured her wine that tasted of vinegar and s...

Aku, Cthulhu

Neil Gaiman, 1986, https://www.neilgaiman.com/Cool_Stuff/Short_Stories/I_Cthulhu Ilustrasi Cthulhu oleh Disse86 dari DeviantArt I.   Cthulhu, begitu mereka memanggilku. Cthulhu yang Agung.    Tidak ada seorangpun yang bisa mengeja namaku dengan benar.   Apa kau menulis semua ini? Kata per kata?   Bagus. Harus kumulai dari mana—mm?   Ya sudah, kalau begitu. Dari awal. Tulis apa yang kubilang, Whateley.   Aku dilahirkan ribuan tahun yang lalu, dalam kabut gelap Khaa’yngnaiih (tidak, tentu saja aku tidak tahu bagaimana mengejanya. Tulis saja sesuai bunyinya) dari orang tua mimpi buruk tak bernama, di bawah bulan yang bungkuk. Bukan bulan dari planet ini, tentu saja, aku lahir di bawah bulan sungguhan. Di malam-malam tertentu, bulan itu memenuhi lebih dari separuh langit dan saat bulan tersebut naik, kau bisa menyaksikan darah merah jatuh dan menetesi wajahnya yang bengkak, menodai wajahnya merah, sampai pada titik ketinggian di mana cahayanya menyirami r...

Ragu Menyengat

Kamu tahu, apa yang angin hadirkan padaku malam itu? Ragi, ragu, keringat udara musim penghujan berbau menyengat. Sedikit manis lalu asam membaur di permukaan lidah. Rontok segala yang ada di dada meski jarak tidak seberapa. Ujung-ujungnya aku terengah menjadi gerah dan lelah Gelitik hari itupun runut selantunan kecapi pada telinga ia berbuah rasa hangat yang hanya bertalu-talu di dada bukan tipikal rindu yang mudah dinikmati Kilasan pertemuan, tawa yang menjemukan, cinta yang mengharukan, Tidak pernah sederhana malah menuai petaka Lalu setelah ini apa? "Mari kita menyerah dan tanggalkan  harapan masing-masing sebelum hilang selamanya." 25 Agustus 2013.