Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

bukan lagi aku dan kamu

terkadang, aku masih menyebut kamu dan aku sebagai kita. seolah-olah masih ada seutas benang yang menghubungkan kita berdua. seolah-olah kamu hadir di sini ketika luka itu berdarah. tapi kamu lihat, ketika patah itu terjadi, semuanya sunyi. kita tidak berteriak atau mencakar atau menggigit. kita hanya berubah dari saling menginginkan satu sama lain menjadi mendambakan yang lain. hatiku pilu dan yang kamu dambakan hanyalah meminta maaf. aku mencintaimu dan yang kamu inginkan hanyalah memohon maaf. diterjemahkan dari  puisi @nurul.ak  di Instagram.  

satu ons kata, dua gram makna

Ia menulis puisi dari sekumpulan ingatan yang menolak disangkal keberadaannya. Dalam tempurung kepalanya, satu ons kata dan dua gram makna meronta dalam ingatan. Diambilnya kata dan makna itu. Dikulitinya tanpa banyak bicara Dicacahnya sedemikian rupa. Ditambahkannya bubuk pala. Gadis manis…. begitu asik jemarinya menari di atas talenan tempat kata dan makna terpotong bersimbah darah. Gadis manis….. begitu asiknya ia sampai lupa kalau apa yang diperbuatnya hanya menjadikan ia makin tak berarti.

Yojanagandi

Menyebrangi Yamuna, Matsyagandi menjemput sedikit duka dan bahagia. Katanya, "Siang itu kuserahkan seluruh aku, Parasara: nasib kutuk dan semua kemelut. Dan dalam balutan kabutmu, akhirnya sirna segala rasa takut." Sampai di sebrang Yamuna, Matsyagandi menghantar banyak bahagianya yang masih muda. Ia tidak berkata apa-apa, sunyi sudah terlelap dalam dadanya. ____ *) Jakarta, 19 Juli 2018

menjelma seorang bodoh

maaf, pada akhirnya kita berakhir begini. jatuh berserak ini tidak mengajarkan kita apa-apa kecuali seberapa pandainya kita dalam hal berpura-pura. kita memilih berbasa basi ketimbang mengucapkan apa yang sebenarnya tersimpan di hati. kamu mengutarakan salam terakhir penuh makna tepat sebelum semuanya selesai, katamu kamu tahu ini bukanlah persoalan aku yang tidak balas mencintaimu. katamu aku hanya tidak tahu caranya membiarkanmu. hari ini aku membaca tentang bagaimana kamu hanya akan jatuh hati tiga kali sepanjang hidup. tangisku pecah sebab aku takut kamu bukanlah kejatuhanku yang terakhir. sebab setelah kamu, pikiran jatuh hati pada yang lain terasa seperti sakratul maut. sebab setelah kamu, pikiran jatuh hati pada seorang lain terasa seperti melarut tenggelam di laut. | nurul ak ____________ diterjemahkan dari puisi @nurul.ak di Instagram.  

Tersesat

Di hari pertama kita bertemu, aku tersesat di matamu. Aku mencacah sebagian diriku, menyembunyikannya di antara puisi-puisimu. Lama berselang, kehilangan akan sebagian aku mulai meradang. Malam-malamku berubah senyap meski sesekali kueja puisimu satu per satu (dengan harapan menemukan diriku yang utuh atau barangkali kamu yang dulu). Sayang, aku masih tersesat. Pagi hari, aku tercekik bau ampas kopi. Siang hari, aku mabuk narasi sendiri. Malam hari, aku keliru mengenali mimpi sebagai rindu yang gampang diobati. Padahal kereta yang seharusnya membawa kita pergi ke perandaian telah lama lewat. Kamu sudah berangkat. Semua kepalang terlambat. Sayang, aku kian tersesat.

Malaikat yang Menyamar - T.S. Arthur (1851)

Malaikat yang Menyamar atau An Angel in Disguise (1851) tampil dalam koleksi cerita T.S. Arthur yang berjudul After a Shadow and Other Stories .  "Manisnya anak yang sakit itu, yang selalu memandangnya dalam cinta, kesabaran, dan rasa syukur seperti madu bagi jiwanya, dan dia menggendongnya dalam hatinya juga dalam pelukannya, sebuah beban yang berharga." Hmayak Artsatpanyan, Sick Child, 1900 Kemalasan, sifat buruk, dan konsumsi alkohol berlebih telah melakukan tugas mengerikan, dan Si Ibu yang mati itu terbujur kaku di tengah anak-anaknya yang malang. Wanita itu jatuh di ambang pintu rumahnya dalam keadaan mabuk, dan meninggal di tengah keberadaan anak-anaknya yang masih kecil serta ketakutan. Kematian menyentuh rasa kemanusian paling mendasar. Wanita ini telah dihina, diolok, dan dikecam oleh hampir setiap lelaki, wanita, dan anak-anak di desa tersebut; tapi sekarang, bersamaan dengan kabar kematiannya yang disebarkan dari mulut ke mulut dengan nada mura...

Ayah Sayang

Waktu kecil, ia bermimpi didatangi rasa nyaman dan aman dan Tuhan dan diceritakannya semua itu pada ayahnya. "Pertanda bagus, Nak. Berarti rasa nyaman dan aman dan Tuhan sayang sama kamu," kata ayah menyeruput kopi. Berbekal rasa berbunga di dadanya, Ia pergi mencari petualangan di dada seorang perempuan tua yang pernah melahirkan kakak perempuannya. Perjalanannya jauh nan kisruh penuh dengan rasa kalah dan peluh dan guratan luka yang tak kunjung sembuh. Bertahun-tahun setelahnya bebungaan di dadanya rontok hingga tinggal satu tangkai. Ia sadar itulah waktunya pulang menuju ayahnya berada. Sampai di beranda rumah, ia tidak menemukan ayahnya ada di mana-mana. "Apa ayah pergi ke pintu dapur surga?" ia bertanya. Ia lunglai di lantai. Ternyata benar: Hati yang patah tidak memiliki suara. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @dit...

Kunjungan

Sesekali kamu akan datang mengunjungi ranjangku, merebahkan tubuh dan pikiran, menghangatkan pembaringan kanan. Saat itu (biasanya malam) kamu memilin-milin renda gaun tidurku menyusuri garis tubuh menggumam menyoal taman Getsemani (dan apa yang harusnya terjadi di sela-sela narasi ini). Suaramu perlahan membangunkan minat dan keinginan tuk minggat kata-katamu lantas menelusup dalam kepala; patah, tanggal, dan tinggal. "Aku membawa sebuah kisah yang menggerogotiku," katamu sebelum bibirmu tanpa ampun kamu lumat. Lampu minyak meredup dan malam kembali takluk pada pertanyaan, perandaian, kemudian peraduan. Di atas kasur, batas antara benar dan salah memutuskan sudah waktunya ia berlibur. "Aku membawa sebuah kisah. Ia menggerogotiku." Kamu masih melumat sebelum akhirnya melunak lalu luluh lantak. Luluhkah kamu? Lantakkah kamu? Sungguhkah itu? Sering kali (biasanya pagi hari) kamu akan beranjak menjauhi ranjang, membangunkan...

Bibirmu

Dadamu, genderang perang  yang tak putus bertalu-talu.  Air matamu, sungai kecil yang senantiasa mengalir Bibirmu, sebuah bagaimana  dan jika yang tidak pernah  kutemukan  akhirnya. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan Kolaborasi Sekumpulan Tanya oleh Ditania Melivia.

Doa

Sudah berbulan-bulan doa-doaku merapal dirinya sendiri.  Tiap malam mereka mencari jalan setapak menuju sebuah tempat. Barangkali  menuju  kamu. Doa-doaku memburu ingin segera pulang  ke pelukanmu; mengubur tubuh ini dalam-dalam di jantungmu. Mungkin doaku tahu  mustahil rindu menang berkompromi melawan waktu.  Mungkin saja, siapa yang  tahu? "Pulanglah cepat agar  kamu merasa hangat  meski tersesat; sedikit kuat  walau berakhir sekarat." Doa-doaku paham betul pada akhirnya hanya kamulah liang kuburku.

Sabda Kedua

Untuk semua malam  yang tak pernah terjadi dan semua hari  yang mustahil diamini, Lelaki tua menjelma jawaban yang dinanti para pencari dan berlari ke segala penjuru dan bersemayam dalam laku dan menyamar jadi kamu. Agar sepi tak lekas mati, Ia merangkum dirinya, semua rasa herannya, dalam sebait puisi:  "Sabda masih menenun cerita  di bawah jendela. Ia masih belum mau kembali ke rumahnya tidak melalui kata, tidak melewati kenapa." ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan Kolaborasi Sekumpulan Tanya oleh Ditania Melivia.

Ia Percaya

Ia percaya akan adanya satu penguasa, lelaki tua yang duduk di sebuah singgasana jauh di atas ubun-ubunnya dan segala yang tampak dan tak menjejak begitu pula yang berjarak. Lelaki tua lahir dari rasa penasaran. Ia diadakan, menolak dijadikan segala sesuatu bersumber dari dahaganya yang tak berkesudahan. Lelaki tua menunduk-nunduk di tempat duduknya jauh di atas awan dan angan. Sampai matahari terbenam, ia masih mendengar lelaki tua tertawa-tawa. Sampai bulan menari di langit, ia masih mendengarnya bertanya; "Mengapa?" Esok hari lelaki tua pergi entah ke mana. Bisa jadi ia mencari anaknya, yang hilang diculik dari salibnya. ________________________ Kolaborasi: Sekumpulan Tanya Kunjungi juga blog  written words, twisted thoughts.   dan  @xditania  /  @ditaniam  di kanal Instagram untuk tulisan-tulisan Kolaborasi Sekumpulan Tanya oleh Ditania Melivia.

Undian - Shirley Jackson (1948)

Pagi hari di tanggal 27 Juni cerah dan terik dengan kehangatan segar khas puncak musim panas; bunga-bunga semarak rupa bermekaran dan rerumputan berwarna hijau cerah. Orang-orang desa mulai berkumpul di alun-alun, yang terletak di antara kantor pos dan bank, sekitar pukul 10 pagi. Di beberapa kota kecil yang memiliki banyak penduduk, acara penarikan undian memerlukan waktu dua hari dan harus dimulai pada tanggal 2 Juni. Namun di desa ini, desa yang hanya berpenduduk tiga ratus orang, acara penarikan undian hanya memakan waktu kurang dari dua jam. Maka, acara tersebut dapat dimulai pada pukul sepuluh pagi dan diakhiri tepat waktu sehingga orang-orang bisa kembali ke rumah masing-masing untuk makan siang. Anak-anak jelas yang pertama kali berkumpul di sana. Sekolah baru saja memasuki masa liburan musim panas, dan kebanyakan dari mereka merasakan kebebasan yang canggung; mereka cenderung berkumpul dalam diam untuk sementara waktu, diam yang nantinya pecah oleh riuhnya permainan se...