Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Napsu

Kamu pikir mengasihi adalah rindu yang seperti awan-awan seputih susu berarak pergi melintasi kepalamu. Kusut pikiranmu menimbang-nimbang mana yang perlu diucapkan mulut dan dirasakan dadamu. Gemuruh keduanya sering membuat lidahmu kelu. Tapi kemudian Kamu mengambil keputusanmu. Kamu berlindung dibalik tanya yang tak menentu. “Apakah itu yang jatuh di cangkol buah dadamu?” tanyamu di suatu senja yang pilu. “Hanya napsu. Tidak pernah rindu. Bukannya memang selalu seperti itu?”

Rokok dan Tulisan

Pukul dua lewat lima menit, bunyi guyuran toilet ramai memecah suasana siang yang hening dari salah satu kamar kosan di bilangan Jakarta Barat. Tak lama setelahnya terdengar suara mengumpat dari dalam toilet yang sama. Hening sebentar, sebelum suara guyuran toilet kembali terdengar. Setelahnya, seorang perempuan keluar dari toilet. Raut wajahnya nampak kesal seperti habis melakukan sebuah kewajiban ganjil yang tidak pernah ia pahami tujuannya. Rambutnya yang pendek nampak awut-awutan. Ia coba untuk merapihkan rambutnya dengan usaha setengah hati. Si perempuan menghela napas, membereskan tumpukan baju di atas kursi. Sesekali ia melihat ke arah tempat tidur sebelum kembali menekuni baju-bajunya. “Semalam.... aku tidak bisa tidur,” ujar perempuan itu membuka pembicaraan. “Ini sudah kali keempat minggu ini. Aku uring-uringan, berbaring kesal di atas tempat tidur, mencari kantuk yang tak kunjung datang. Akhirnya aku bangun dari tempat tidur, bingung memutuskan antara apakah aku aka...

Seorang Pria

Untuk sekali saja, Sabda menjelma seorang pria; segala kusut dalam kepala, segala hitam tanpa jelaga segala tidur yang berduka. Di malam-malam tanpa cahaya, Ia mencari jalan pulang lewat sederet kata. Sabda menenun cerita di bawah jendela; jemarinya mengembara, begitu pula dengan kepalanya.

Manisan Terpahit

Nasib sering kali jadi panas yang menjalari dan menjiwai tiap perbincangan kita Kamu pernah bilang, "Apa kita takdir terburuk?" Kamu menawar getas dan aku tertawa saja namun waktu tidak lantas berpihak pada suatu kita. Pada akhirnya, dadu pun bergulir: Aku, kamu, manisan terpahit.

Ajal

Tanpa perundingan apa-apa kamu ungkap sebuah kebutuhan yang mengada-ada  dan sia-sia. Di ujung kerongkongan, air mata berubah  sesuatu yang  pejal. Setelahnya,  rindumu hanya tinggal menunggu ajal. 

Ziarah

Yang merembes dari kepalanya adalah suara, kata, dan cerita. *** Pagi itu, ia menjadi seorang perempuan berusia dua puluh dua: Ningsih yang lugu, norak, ceria nan baik hati. Terlahir sederhana, Ningsih tumbuh tanpa memiliki prasangka berlebihan terhadap sekelilingnya. Asalnya dari Klaten dan ia hanya hidup berdua dengan bibinya. Ibu dan ayahnya telah lama meninggal dunia. Menurut cerita bibi, yang pertama meninggal adalah ibu akibat tertabrak mobil. Tak lama kemudian ayah menyusul karena terkena serangan jantung setelah mendengar kabar ibu tertabrak mobil. Menjelang umur dua puluh tiga, Ningsih bertemu seorang lelaki baik dari kota. Gigih, namanya. Tanpa pacaran lama-lama, keduanya memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Karena itulah, Gigih harus kembali ke rumahnya di kota untuk mempersiapkan hari bahagia mereka. “Kita menikah yang sederhana saja. Tidak perlu mahal-mahal supaya bisa membuka usaha di kota,” begitu kata Gigih sebel...

Aru Termangu

Aru termangu, benaknya mengembara. Pada perlehatannya yang biasa, pada kisi-kisi jendela berwarna kelabu sebuah kamar bercat kusam dengan luas sekian kali sekian meter ditempeli poster band-band lama, pemuda itu menatap ke luar. Ada banyak puncak-puncak gedung pencakar langit di luar sana, berkelindan dengan jalan yang di padati kendaraan bermotor dilatarbelakangi sapuan tipis awan pada langit biru abu-abu. Ia berpendapat ada banyak hal yang lebih menarik melebihi tugas sepele seperti membuat karangan mengenai perbedaan kebudayaan negara Indonesia dan Australia   (“Lima paragraf. Panjangnya terserah, tapi harus ada perkenalan; harus ada permasalahan yang mau dibahas. Opini sendiri, lalu penutup,” ―repot!), atau mengetik sekian ribu sekian ratus kata hanya untuk mengulas diskriminasi minoritas ras terhadap mayoritas ras biasa yang makin menggila belakangan ini (Aru berusaha netral. Tapi susah). Atau setidaknya mengabarkan pada ibunya yang berada jauh di pinggiran kota Ja...

Tentang Kembang

Gadis itu datang lagi berkunjung, padahal misa pagi di hari Selasa minggu pertama bulan Mei belum juga dimulai. Ia selalu datang dengan pakaian seragam sekolah yang nyaris lengkap. Kemeja putih dengan emblem pendidikan yang telah menguning, rok biru keabu-abuan sepanjang lutut kaki lemas, kaus kaki yang warnanya hampir selalu tidak bisa ditebak dan sepatu pantofel berwarna coklat. Ia tidak terlihat memakai ikat pinggang seperti teman-teman sekolahnya. Ikat pinggang miliknya sudah lama rusak dan ia tidak memiliki uang untuk membeli yang baru. Gadis itu hampir selalu melangkahkan kakinya dengan terseok, duduk di barisan kursi misa paling belakang dan memandang salib besar di tengah gereja. Ia tidak berlutut atau berdoa seperti kebanyakan orang tua yang bangun kelewat pagi dan bersusah payah merapalkan doa supaya mereka hidup lebih lama lagi. Ia hanya duduk, menerawang jauh. Pandangannya tertutup kabut tak kasat mata, sedih, seolah dunianya telah lama runtuh. Tidak ada satupun doa y...

The Flowers, They are Withering

The thing is, I don’t know how much time I have wasted while waiting for the flowers to bloom. I also don’t know how many nails I have bitten to make the waiting becomes bearable The feeling of depletion has not leaving my chest ever since I got the desire to see the petals become brighter and livelier. Yet the flowers still stiff and the day grows slower. I was completely sure that  there is nothing I could do to change the fate of those flowers, But a glimpse of hope cracked my desire opened: “What if the flowers only need sunlight? What if they only need time to be whatever it should be?” I almost feel bad for the flowers Maybe I can pour something to make the flowers feel better A handful of wishes perhaps Or two drops of tears? But my hands won’t even move an inch They stiffen and sullen Each has its own countless scars Each refuses to take an effort And I wept Wept Wept As the numb feeling snatched away the hope f...

Tentang Maria

Diam-diam, dalam hati, aku bersumpah untuk tetap mengunjungi Maria setiap hari. Tapi janji tidak selalu mudah untuk ditepati. Ibu bilang, Maria dilahirkan oleh sebuah kutukan. Terlepas dari namanya yang berarti penguasa lautan atau anak yang didoakan, Ibu sempat berujar jika nama tersebut juga mengandung arti lain. Nama Maria itu berarti lautan kepahitan dan lautan kemalangan. Jadi, menurut kesimpulan ibuku, pantas saja Maria dipanggil Maria sebab kemalangan tidak pernah selangkah lebih jauh daripada kepahitan.   Ibu tidak pernah melarangku bergaul dengan Maria. Tapi ia juga bukannya pihak yang vokal menyetujui jam mainku dihabiskan bersama Maria. Bukan hanya Ibu, hampir seluruh wanita seumuran ibu yang memiliki anak sepantaran aku, menyarankan anak-anaknya supaya mencari teman bermain yang lain. Suatu hari aku bertanya kenapa Ibu selalu menyarankan aku bermain bersama Mona, anak perempuan bertubuh gemuk yang tinggal dua rumah dari rumahku. Ibu hanya menukas, s...

Nasi Tumpeng

“Boss besar sedang berbaik hati.” “Nampaknya begitu.” “Bukan ah, ini kan memang perkara kewajiban aja.” Keringat mengucur deras. Boss Besar belum juga muncul. Padahal waktu yang disertakan di surel jelas-jelas pukul 3 sore. Sementara itu, romusha modern penggerak perusahaan telah berdiri mengelilingi sebuah meja dengan nasi tumpeng menjulang tinggi lengkap bersama lauk pauknya. Lima belas menit berlalu, Boss Besar belum juga muncul. Kerumunan karyawan perusahaan mulai gelisah. Salah seorang pria diantara kerumunan karyawan perusahaan itu, Yus, nampak lebih gelisah daripada rekan kerjanya yang lain. Ia agak sedikit membungkuk sebab perutnya seperti ditusuk oleh jarum setebal kuku kaki. Sudah hampir tiga hari ini ia makan hanya sekali sehari demi mengulur jumlah gaji yang tinggal seberapa. Dari tempatnya berdiri, sekitar tiga meter jauhnya dari nasi tumpeng besar dan hanya sejengkal jaraknya di sebelah Mus, sahabat karibnya, Yus menelan ludah sus...

Tentang Si Penulis yang Menjelma Seonggok Omong Kosong

Di bulan Maret, seorang penulis bersikeras memutuskan jika dirinya membenci tulisan, kata, cerita, dan membakar buku di perpustakaannya dengan api senyala buah plum. Ia sempat mengira dirinya gila serta hampir yakin ada sebuah keyakinan sesat terhirup oleh hidungnya sesaat setelah hujan reda. Jika bukan karena keyakinan sesat yang terkandung dalam bau setelah hujan, mana mungkin ia dengan mudahnya membuang semua peralatan tulis, mesin tik, laptop, dan jurnal-jurnal dari masa lampaunya ke dalam api yang menjilat-jilat di pelataran belakang rumahnya. Mana mungkin dengan mudahnya ia menghempas segala gagasan ideal mengenai dirinya sendiri yang seorang penulis tersebut ke tempat pembakaran sampah di belakang rumahnya. Si penulis terhenyak memandangi kata-kata yang sekarat keluar dari buku, peralatan tulis, mesin tik, laptop dan jurnal-jurnal masa lampaunya. Ia meneliti perasaannya sendiri, meraba hingga bagian terdalam lubang kosong di dadanya. Sempat ia mengernyit, mengantisipasi...

Tentang Seorang Pelukis dan Mimpinya

Di antara bau pelitur dan perkakas penuh bercak warna, seorang pelukis tenggelam dalam mimpi yang panjang.   Pada mimpinya itu ia berada di tengah-tengah dua dunia yang berbeda: tangan kanannya berada di sisi hitam dunia dan tangan kirinya berada di sisi putih dunia. Ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Sementara ia tahu betul dirinya pernah melihat warna merah, atau ungu, atau kuning, atau biru teal di langit siang yang mendung, segala pengetahuan itu mulai mengabur meninggalkan warna putih, abu-abu, dan hitam. Panik mulai menjalari sekujur tubuhnya. Si pelukis mulai berjalan. Meski tak tahu ke mana arah yang ia tuju, si pelukis bertekad mencari sebercak warna dalam dunia tersebut. Dalam pikirannya, sebuah suara mulai mengisi relung kosong dalam kepalanya dengan gagasan-gagasan jahat yang samar, yang merusak, yang menjalar, yang membuat dadanya semakin sesak seiring dengan langkah kakinya. Dan ketika semuanya semakin tidak tertahankan, si pelukis mulai menamb...